Posts filed under 'My Opinion'

TEKNIK MEMIMPIN DISKUSI

Pemandu dengan tanggung jawabnya untuk mengarahkan dan membimbing peserta menuju pemahaman dan sasaran pembelajaran tentunya harus memiliki keterampilan tertentu dalam mengendalikan sebuah forum dimana didalamnya akan terjadi berbagai interaksi baik antar peserta maupun peserta dengan pemandu. Tentunya pemandu tidak akan memparkan materi terus menerus secara keseluruhan hingga ia mendominasi jalannya sesi, namun ia bisa mendorong peserta untuk mengeksplorasi pengetahuan dan gagasannya melalui sebuah diskusi yang teratur dan terarah. Kita dapat mendefinisikan diskusi sebagai bentuk kegiatan interaktif yang melibatkan 2 orang atau lebih dan tidak selalu memiliki pemimpin formal. Berarti diskusi yang sedang kita bicarakan ini tidak hanya terbatas pada forum-forum formal maupun semiformal, namun juga bisa dilakukan secara bebas tak resmi baik secara lisan maupun tulisan. Yang ditekankan disini adalah adanya hubungan timbal balik atau komunikasi dan terdapat upaya tranfer informasi di dalamnya. Meskipun terdapat ketentuan umum dalam penyelenggaraan diskusi, namun pada kenyataannya melanismenya tidak selalu berlangsung mengikuti kaidah ilmiah. Interaksi berlangsung tanpa sepenuhnya mengacu pada kerangka yang umum asalkan terdapat topik yang dibicarakan dan orang yang menginteraksinya. Dan sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam diskusi tidak harus selalu memiliki pemimpin yang bertugas mengatur dan memediasi berbagai kepentingan peserta diskusi. Komunikasi berjalan begitu saja sesuai keinginan dan kesepahaman kedua belah pihak baik terkait arah maupun penyelesaiannya. Hal lain yang seringkali ditemukan adalah bahwa dalam diskusi kita bisa menemukan bahwa tidak semua peserta mampu bersikap objektif. Masing-masing peserta diskusi memiliki kepentingan dan arah pemikiran tersendiri, apalagi jika emosi juga disertakan dalam menyikapi maupun mengutarakan pendapat maka kemungkinan yang terjadi adalah saratnya nuansa subjektivitas dalam diskusi. Hal ini cukup rawan terhadap efektifitas diskusi yang menuntut penyelesaian atau sebuah konklusi bersama. Maka disinilah salah satu alas an mengapa peran dari pemimpin diskusi dan pengendalian diri/kedewasaan peserta diperlukan. Tang ketiga adalah bahwa diskusi bisa diselewengkan dengan tujuan tertentu. Kita bisa menemukan banyak kasus yang menunjukkan diskusi-diskusi yang tidak produktif/sia-sia. Diskusi dapat mengarah pada sebuah perencanaan kejahatan, fitnah/gossip dan mendekonstruksi pemikiran peserta oleh peserta yang lain yang dominan. Untuk menyelenggarakan sebuah diskusi ada beberapa hal yang harus dipersiapkan antara lain: 1. Kerangka diskusi, yaitu suatu alur diskusi antara pemandu dengan peserta yang biasanya berisi: tujuan/target, metode & waktu yang direncanakan. Agar arah diskusi tampak jelas, maka kita perlu menentukan sasaran yang ingin kita capai/hasil yang diharapkan dari diskusi tersebut. Sehingga kita bisa mempersiapkan diri melalui referensi tertentu atau gagasan-gagasan penting tertentu sebelum diskusi tersebut mengalir. Lalu agar diskusi menjadi efektif, kita juga perlu menreapkan metode tertentu sesuai tujuan, peserta, suasana dan waktu yang tersedia untuk diskusi. Yang terakhir mengenai waktu, bahwa besarnya waktu akan mengukur berapa lama kita akan menyelenggarakan sebuah diskusi. Sehingga pembicaraan-pembicaran yang terjadi berlangsung efektif dan efisien. Pemilihan waktu yang tepat juga merupakan salah satu indicator yang bisa menentukan sukses tidaknya diskusi yakni tercapainya tujuan. Kemudian terdapat beberapa tahapan sebagai alur dari kerangka diskusi sendiri yaitu Pengumpulan fakta. Agar pembicaraan dalam diskusi sarat dengan nuansa objektif dan memiiliki suatu kejelasan maka kita perlu mengumpulkan berbagai macam fakta yang relevan dengan topic yang akan dibicarakan. Fakta tersebut biasanya berasal dari buku-buku, majalah, surat kabar, internet maupun radio. Penyaringan fakta yang relevan. Pada tahap ini terjadi pemilihan dan pengolahan data sesuai tujuan atau penyelesaian permasalahan yang diharapkan. Mana saja fakta-fakta yang dapat memperkuat gagasan atau memungkinkan untuk diolah bersama. Pengaitan fakta menjadi kesimpulan. Fakta yang tadi sudah dipilih akan dijadikan referensi dalam diskusi yang nantinya konstruktif terhadap kesimpulan yang didapatkan. Sehingga apbila didasarkan pada fakta maka kesimpulan yang diperoleh akan lebih valid. Pengaitan kesimpulan dg situasi sehari-hari. Agar hasil diskusi nanti dapat dengan mudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, perlu adanya sebuah koherensi antara hasil diskusi atau kesimpulan dengan kondisi lingkungan atau kehidupan sehari-hari. 2. Kerangka observasi. Merpakan suatu trik untuk mengarahkan pemahaman peserta berdasarkan struktur dari materi yang sudah dipersiapkan. Karena persepsi peserta beraneka ragam maka dalam waktu yang efisien kita harus mampu mengendalikannya agar sesuai dengan arah pembelajaran yang diharapkan. Adapun unsur-unsur yang terkandung di dalamnya anatara lain : Fakta / temuan yang seharusnya terungkap dalam diskusi, Pertanyaan yang perlu diungkapkan untuk memperlebar terungkapnya fakta, Cara menggabungkan fakta tsb menjadi suatu kesimpulan dan contoh dalam kehidupan sehari-hari,supaya jelas. Pada pelaksanaan diskusi sendiri, pemandu harus sedemikian rupa memperhatikan unititas dalam diskusi dan alur yang sudah dipersiapkan. Lalu dilakukanlah evaluasi yang merupakan Penilaian akhir untuk mengetahui dan menjelaskan sejauh mana peserta mengerti materi yang disampaikan yang bertujuan memperbaiki yang kurang,membangun dan memotivasi peserta. Dan trakhir terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pemandu untuk dikurangi selama memimpin diskusi yakni menjawab pertanyaan, menjelaskan definisi dan memberi konfirmasi. Berilah kebebesan bagi peserta untuk mengungkapkan ide dan gagasannya dan tentu benahi kekeliruan-kekeliruan dan kendalikan arah diskusinya.

Add comment Juli 11, 2008

KECERDASAN KOMUNIKASI

Latar belakang identitas sosial kita sebagai manusia telah menghadirkan sebuah konsekuensi logis, dengan adanya interaksi serta konflik antar individu dalam suatu komunitas masyarakat, yang saat ini sudah terasa sedemikian kompleks. Putaran zaman yang begitu cepat, peradaban yang mengalir deras dalam hiruk pikuk modernitas telah mengantarkan kita pada kehidupan yang padat dengan permasalahan dan tantangan. Tuntutan yang semakin besar dalam memenuhi kebutuhan berarti semakin terbukanya peluang terjadinya friksi serta kompetisi, dengan beragam bentuk dan pengaruh yang menyertainya dalam keharmonisan serta keutuhan. Sehingga konflik yang terjadi harus terkelola melalui komunikasi yang efektif, terpelihara dalam bingkai dependensi mutualistik.
Keberhasilan individu untuk tetap survive dan senantiasa melakukan lompatan-lompatan besar di tengah derasnya dinamika hidup, salah satunya terlihat melalui kualitas karakter dan softskillnya, maupun interaksi sosial yang akan menakar nilai tawar dalam komunitasnya. Keterampilan berkomunikasi memiliki hubungan yang linier dengan pencapaian sebuah kesuksesan.
Komunikasi bagi saya lebih dari sekadar saling bertukar informasi atau pendapat, ia merupakan seni membangun hubungan dan mempengaruhi orang lain agar mereka dapat menerima keberadaan kita dan bersikap/berpikir sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Media komunikasi bervariasi sesuai kompleksitas yang mengemasnya saat ini. Lisan atau tulisan, audio atau visual, verbal atau non-verbal, bagaimanapun pemenuhannya tetap membutuhkan kompetensi sehingga komunikasi dapat terselenggara dengan efektif.

Secara intrapersonal, komunikasi harus mensinergikan pikiran, hati dan sikap pribadi, entah dalam menerjemahkan realitas atau menghadapi permasalahan hidup. Imunitas pribadi dan kekuatan karakter terlahir melalui interaksi dan pemahaman yang baik akan hal ini. Ia dapat terlahir dari proses perenungan, adaptasi dan evaluasi internal yang kontinyu untuk kemudian dapat membuka diri dan mengarungi lautan konflik eksternal baik yang bertendensi positif maupun negatif. Medan interaksi interpersonal kita memiliki tipe dan level psikologis yang beragam, baik dari segi manusianya, masalah dan kondisi lingkungan yang melatarinya. Sehingga munculah istilah 3S(Senyum-Sapa-Salam), Berbicara efektif, Mendengar aktif –tentang keterampilan menyimak dan eksplorasi, Bahasa Tubuh (Body Language), dan lain sebagainya.

Add comment Juli 11, 2008

Anak Zaman

Bahwa manusia adalah anak zamannya masing-masing. Ia memang dihadirkan dengan spesifikasi dan kapasitas tertentu sesuai kondisi dan kebutuhan masa eksistensinya. Menganalisa masa lalu, mensintesanya bersama realita dan cita-cita untuk kemudian menuliskan sejarah dan membangun peradaban dengan tangan-tangannya sendiri. Hal terakhir terbangun kadang melalui pergulatan menginteraksi masalah, mengawalinya dengan ketidaktahuan dan mereka menjembataninya dengan pembelajaran. Berpacu dengan waktu, di belantara problematika dan rimbun tantangan yang seringkali melampaui kedewasaan mereka untuk menempatinya.

Add comment Juli 11, 2008

Waktu..aku Menyesal !

Dalam mengarungi bahtera hidup ini, waktu adalah modal atau bekal yang sifatnya unrenewable dan juga unrepeatable. Seberapa besar waktu yang terbingkai oleh karya, akan berkaitan dengan produktivitas serta keberhasilan kita dalam mengelola hidup. Jika kita analogikan dengan koordinat kartesian, maka waktu dan karya (amal) bagaikan nilai x dan y yang mendeskripsi rentang hidup kita dalam suatu fungsi.
Waktu adalah penggalan masa dan dia adalah momentum. Penting atau tidak, bermanfaat atau sia-sia adalah bagaimana cara kita memaknainya. Ada efek menetes (trickle down effect) dimana setiap amal yang kita lakukan dalam suatu waktu akan berpengaruh pada kegiatan yang kita rencanakan atau konsekuensi yang menimpa kita di hari esok. Sehingga seorang yang sukses menurut saya terindikasi dari bagaimana dia dengan cerdas mengalokasikan semenitpun miliknya hanya untuk aktifitas yang produktif / bermanfaat baik yang terencana maupun secara tidak sengaja harus dilakukan. Dia mampu mepertemukan ketegasan dan fleksibilitas terhadap pengaruh lingkungan yang dapat mengganggu alur harian yang teragendakan sebelumnya baik berupa ajakan teman atau kegiatan yang mengundang antusiasme sekalipun. Agar kita bisa menjaga diri hari ini dan menyelamatkan hari depan dalam keteraturan dan keberhasilan.
Sebenarnya cukup banyak alasan yang bisa menerangkan tentang nilai waktu dan urgensi mengelolanya secara efektif. Saya rasa di era global yang kompetitif saat ini dimana informasi dan komunikasi begitu cepatnya bergulir dan terdistribusi, mayoritas masyarakat dunia secara normatif sudah terkondisikan untuk memahaminya, hingga premis waktu adalah uang biasa terdengar dimana-mana. Namun dalam tataran praktis agaknya banyak kendala baik dari pribadi maupun kondisi lingkungan yang menjadikannya sulit terimplementasi. Hal itu juga berlaku pada saya sebagai seorang mahasiswa yang seringkali diliputi tanggung jawab akademis maupun permasalahan amanah di beberapa organisasi yang saya geluti. Banyak yang mengatakan saya aktivis karena kesibukan non-akademis tampaknya lebih banyak menyita waktu dan perhatian saya dibandingkan hal-hal yang berkaitan usaaha mengakrabi diri dengan buku kuliah atau tugas praktikum. Hingga di dalam kelaspun meski sang dosen sudah berkali-kali mengusap peluh atau mengganti berlembar-lembar transparansi (slide), saya tetap asyik dengan pikiran yang mengembara ke ‘dunia lain’. Padahal itu tidak benar, hampir sebagian besar waktu dan aktifitas yang saya lakukan demikian kontraproduktif dan tidak efektif. Terus terang, rasanya waktu yang saya miliki di kontrakan banyak dihabiskan dengan hal-hal yang tidak jelas, jika ditinjau berdasarkan kelumrahan seperti apa mahasiswa kebanyakan. Prestasi akademis saya terus berfluktuasi meski lebih sering memburuk, pun dengan karier di kampus yang tidak terbangun semulus yang saya kira.
Seorang aktifis sejati adalah mereka yang mampu menjaga prinsip keseimbangan antara tangung jawab akademis maupun diluarnya. Mereka focus pada beberapa bidang minat/bakat yang menjadikannya berprestasi. Tidak mencoba menjadi kutu loncat, yang hinggap di setiap organisasi yang belum tentu sesuai dengan arah cita-citanya, tidak mampu berkontribusi secara maksimal karena harus membagi waktu/energi dengan tempat lainnya hingga mereka tidak mampu menghasilkan karya atau prestasi yang signifikan. Kembali ke permasalahan waktu, seringkali saya merasa bingung mengenai apa yang harus saya lakukan ketika mengahdapi waktu-waktu senggang, karena sama sekali saya tidak memiliki perencanaan yang jelas terkait aktifitas hari itu. Sebaliknya penyesalan muncul ketika pada suatu waktu deadline tugas baik dari dosen maupun kegiatan tertentu datang bersamaan, sehingga hal tersebut membuat saya tertekan, lelah dan tidak mampu menyelesaikannya dengan optimal. Ketika saat itu datang, ingin sekali saya memutar kembali waktu dan memperbaiki kesalahan.

Saya kini menyadari ternyata rekan-rekan yang sukses di sekitar saya adalah orang-orang yang mampu memanage waktunya dengan baik, mampu memanfaatkan hubungan baik dengan orang lain, serta mampu menjadikan kesempatan sekecil apapun untuk menjadikannya peluang untuk meraih keberhasilan dalam hal apapun. So, mulai sekarang saya ber-azzam untuk menata kembali hidup ini dengan semangat menghargai waktu dan kesempatan….(abank)

Add comment Juli 11, 2008

Saatnya Pemuda Menata Taman Negeri

Sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah (pemikiran/idealisme), pemuda adalah pengibar panji-panjinya (Hasan Al Banna). Soekarno, founding father Indonesia dan Presiden pertama Republik Indonesia pernah menyampaikan dalam sebuah pidatonya bahwa ia sanggup mengguncangkan dunia hanya dengan sepuluh pemuda yang hatinya berkobar. Pemuda sarat vitalitas serta memiliki sense idealisme yang kuat hingga menjadikan mereka menonjol dalam tiap zaman dalam tiap momen perubahan. Dalam beberapa catatan sejarah, sensitivitas kaum pemuda membuatnya berada di garda terdepan dalam upaya mengakhiri suatu rezim yang dinilai telah menciderai amanat masyarakat. Mereka mudah gelisah. Mereka suka resah. Indonesia telah melahirkan angkatan `28, angkatan `66, angkatan 74 dan angkatan 98 yang berasal dari kalangan mahasiswa, memproklamirkan diri mereka sebagai agent of change dan memimpin aksi perubahan hingga menggulingkan suatu rezim tiran. Mereka adalah kaum minoritas kreatif dalam komunitas awam, diantara sekian banyak pemuda/i yang sudah kehilangan eksistensinya karena ekses negatif modernitas saat ini. Mereka adalah tunas baru yang sedang merekah, dan siap menggantikan induknya yang telah layu.
Namun hingga kini cita perubahan untuk menyelamatkan negeri ini dari penyakit kronisnya seolah menjadi utopia semata karena Indonesia belum juga terangkat nasibnya. Peran pemuda selama ini dirasa belum cukup produktif dan koheren dengan kapasitas intelektual mereka baik secara individu maupun kolektif. Selama ini mereka cenderung menggagas aksi-aksi yang reaktif, bergerak sesudah masalah menemukan bentuknya di ruang public. Lalu melancarkan kritik dan tuntutan-tuntutan yang mereka sendiri sulit menderivasikannya dalam ruang praktis. Permasalahan bangsa yang sedemikian kompleks menuntut pemuda yang proaktif, berpikir lateral ke depan dan bertindak sebelum masalah itu menjadi riil. Mereka secara independen melakukan pengawalan kebijakan atau perilaku politik pemerintah entah itu dengan tumpah di ruas-ruas jalan atau menggagas diskurkus yang solutif, dari wacana hingga menjadi gerakan. Melakukan upaya pencerdasan dan pencerahan sosial untuk membuka peluang partisipasi masyarakat, sekali lagi berdasarkan kompetensi atau keilmuan yang mereka miliki. Oleh karena itu fungsi pemuda khususnya mahasiswa sudah mengarah kepada director of change, menggerakkan dan memimpin perubahan di setiap lini kehidupan masyarakat, menjaga agar agenda perbaikan tersebut dapat terencana dengan desain yang matang serta berkesinambungan. “Tidak serampangan,” kata Anas Urbaningrum.
Krisis yang berkepanjangan, dan belum terangkatnya nasib bangsa saat ini sebenarnya disebabkan oleh belum adanya visi dan kepemimpinan yang capable guna menjangkau serta menginteraksi masalah yang sedemikian kompleks. Capable dalam artian minimnya kreativitas dan progresivitas ide serta ikhtiar mengeksekusinya. Tidak kolot dan kental kepentingan politis disana sini.
Kita membutuhkan wajah-wajah yang lebih segar, tangan-tangan yang lebih kekar untuk secepatnya menyambut tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini. Maksud saya, kita membutuhkan pemuda. Pemuda intelektual yang kini tampaknya harus melakukan serangkaian akselerasi guna menghadapi regenerasi kepemimpinan di tubuh negeri. Pemuda yang senantiasa memasifikasi diri, membangun kesadaran di antara rekan-rekan seusianya untuk aktif dalam barisan-barisan kepedulian akan nasib bangsa. Sehingga mereka dapat segera mengetuk palu, menggantikan bapak-bapak yang sudah terlalu uzur untuk menyambut atau memikirkan reformasi, bahkan revolusi. Wacana potong generasi sempat mengisi ruang dengar public terkait dengan keberadaan para pemimpin muda yang sudah begitu diperhitungkan kapasitas dan prestasinya, baik dalam lingkup partai politik, pengusaha, institusi pendidikan hingga parlemen.
Kita mengenal rektor UI termuda dalam sejarah yakni Prof. Dr Gumilar, lalu rector Universitas Paramadina Anis Baswedan, yang baru berusia 38 tahun saat menjabat, lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua BPK Anwar Nasution, Anas Urbaningrum-Ketua DPP Partai Demokrat hingga Fahri Hamzah-anggota DPR dari angkatan 98. Mereka adalah contoh yang membuktikan betapa paradigma kini sudah berubah mengikuti zamannya, zamannya para pemuda. Oleh karena itu, semakin kuat premis yang mengatakan bahwa kepemimpinan pemuda hanya soal kesempatan dan kepercayaan bukan soal kemampuan. (Ubaidillah Nugraha).
Institusi perguruan tinggi sebagai iron stock supplier,merupakan salah satu sarana untuk menyiapkan insan-insan muda intelektual yang akan terjun sebagai abdi masyarakat. Kehidupan kampus beserta organisasi kemahasiswaan di dalamnya turut andil dalam mengisi ruang kapasitas dan membentuk karakter mereka khususnya sebagai pemimpin. Eksistensi organisasi kepemudaan tidak bisa dipungkiri cukup berperan dalam mendinamisasi pergerakan mahasiswa yang demikian menemukan tempatnya. KAMMI merupakan salah satu wadah perjuangan, akselerator bagi para kader muslim bangsa dan nantinya akan menjadi corong bagi terlahirnya pemimpin masa depan yang akan mengangkat Indonesia dari lembah keterpurukan. Dengan platform Muslim Negarawan yang diterjemahkan ke dalam tujuh kompetensi kritis yakni Pengetahuan Ke-Islaman, Wawasan Ke-Indonesiaan, Kepakaran & profesionalisme, Kepemimpinan, Diplomasi & jaringan serta Kredibilitas Moral, maka KAMMI akan muncul sebagai kekuatan penggerak yang mengikis tradisi kebobrokan dan stagnasi selama ini melalui kaderisasi kepemimpinan dengan visi kebangsaannya. Namun gagasan yang begitu ideal sepertinya sulit direalisasikan dalam tataran praktis mengingat kita belum mempunyai gambaran utuh bahkan sosok riil saat ini yang memenuhi kualifikasi seorang muslim negarawan. Meskipun telah dirumuskan secara garis besar bagaimana manhajnya, namun jarak anatara realita dan idealita itu begitu panjang terbentang hingga waktu yang diperlukan memang tidak singkat untuk mereproduksi secara massal kader muslim negarawan yang nantinya (meminjam istilah Anis Matta) akan menata ulang taman Indonesia ini. Wallahu`alam bishawab.

Add comment Juli 11, 2008

Kenang-kenanglah kami, teruskan-teruskanlah jiwa kami…!

Kita telah mengenal betapa banyak tokoh pejuang masa lalu yang menghimpun diri dalam peluh pengorbanan, isak teriakan kebebasan hingga tawa di ujung kematian. Mencoba mengenyah penjajahan yang membelenggu, meniti jalan panjang perjuangan, harga mati kemerdekaan, harga diri bangsa yang terlalu mahal untuk terbayarkan. Mereka terpanggil dan terpilih untuk melakukan pembelaan, menjadi martir yang menegakkan pilar kebangkitan sebagai sebuah bangsa. Kegelisahan, kesadaran serta keberanian yang terakumulasi begitu cepatnya, mengalir bersama semangat pengorbanan, emosi nasionalisme, dan gairah jihad pertarungan. Allahu Akbar..! Membahana, beresonansi di ruang jiwa. Meletup-letup, menghasilkan energi kepahlawanan yeng mengombak berderu, melebihi kecepatan peluru dan dentuman mortir, mengoyak benteng kolonial yang merapuh bersama kedatangannya. Hingga kita dapat menghirup udara kebebasan tanpa rasa takut yang meliputi keseharian dan mengibarkan merah putih setinggi-tingginya, setinggi hakikat keberadaannya kini.

Mereka telah menulis sejarah, hingga pergi meninggalkan kesan, sekaligus pesan dibalik prestasi kemerdekaan. Kenang-kenanglah kami, teruskan-teruskanlah jiwa kami. Itulah penggalan sebuah sajak yang mengisyaratkan cita kemerdekaan yang belum tuntas dan kini menjadi tantangan generasi pewaris negeri ini. Tanpa bambu runcing, senjata api bahkan darah dan nanah. Keharusan untuk mewarna makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan arah perkembangan zaman saat ini.

Sekarang mungkin kita hanya akan menemukan semangat kepahlawanan dan patriotisme secara tekstual dalam kisah-kisah klasik kitab sejarah. Semuanya hanya akan menjadi romantisme masa lalu yang begitu sulit disadur dan diterjemahkan kembali dalam konteks interaksi kehidupan bangsa saat ini. Kita hanya bisa mengenang mereka melalui peringatan seremonial tahunan seperti Hari Kebangkitan Nasional, Proklamasi Kemerdekaan, Hari Pahlawan 10 Nopember ini dan lain-lain dengan sedikit sekali menghayati dan mengimplementasikan hakikat didalamnya, hampa makna.

Setelah 60 tahun proklamasinya, Republik Indonesia telah melalui beberapa fase kepemimpinan sejak orde Lama hingga era reformasi saat ini dimana estafet pemerintahan telah bergulir dan berupaya mengantarkan bangsa ini melalui jalan terjal demi cita-citanya. Namun belum adanya visi dan karakter kepemimpinan yang kuat, negeri ini seperti bingung dan tersesat dalam langkahnya sendiri. Entah mundur, maju atau berjalan di tempat. Indonesia malah semakin sesak oleh masalah dan musibah. Prof. Toshiko Kinoshita dari Universitas Waseda, Jepang pernah mengatakan bahwa orang Indonesia tidak pernah berpikir panjang. Sedihnya lagi karakter seperti itu bukan hanya di kalangan masyarakat dari semua lapisan, tapi juga politisi dan pejabat pemerintah. Hal ini kemudian, menyebabkan Indonesia akan sulit bersaing dengan Cina dan Negara-negara Asia lainnya (Kompas, 24 Mei 2002). Sebagian besar pemimpin dan masyarakat berpola pikir pragmatis, dan hanya berorientasi sempit pada kepentingan pribadi atau golongan. Implikasinya muncul kasus korupsi, pelecehan seksual, kemiskinan, kebodohan, kebakaran hutan hingga konflik horizontal yang seolah membuat tanah air ini tidak nyaman lagi untuk dihuni.

Lalu entah sadar atau tidak, kita pun sedang memasuki babak baru imperialisme dimana hegemoni bangsa asing berupaya menghujamkan kukunya dalam-dalam mencengkeram Indonesia. Korporatokrasi dengan penjajahan multidimensi-sistemik memanfaatkan hutang luar negeri serta berbagai modus kerja sama asing terekayasa menimbulkan ketergantungan dan inferioritas (rendah diri) pemerintah. Parahnya hal tersebut diikuti karakter anti kerja keras dan fatalistis (mudah menyerah/putus asa) sebagian masyarakat dewasa ini. Sehingga kompleksitas masalah sedemikian jauh melampaui kapasitas kita untuk menjangkaunya. Dahulu kita dikenal sebagai bangsa pejuang, yang berhasil merebut hak kemerdekaan dengan tangan kita sendiri. Dengan semangat patriotis, mempertemukan keberanian dan kesabaran dalam perjuangan yang sulit dan tak singkat. Indonesia, di tengah krisis multidimensi, kini sedang menanti kelahiran pahlawan-pahlawannya yang baru. Sosok penggerak dengan integritas intelektual-moral yang siap membangunkan negeri ini dari tidur dan mimpi buruknya.

Mereka memiliki energi yang panjang, mengedepankan ikhtiar yang optimal daripada sesuatu yang instan, berdedikasi untuk membangun negeri melalui karya-karya besar sesuai kompetensinya masing-masing. Dari petani hingga konglomerat, pelajar hingga profesor, ibu rumah tangga hingga presiden, semuanya memiliki kesempatan untuk meraih piala kepahlawanan yang memang tidak dipergilirkan, namun untuk diperebutkan, kata Anis Matta. Selamat Hari Pahlawan.

Add comment Juli 11, 2008

Hijrah Bangsa, Hijrah Pendidikan Kita…

Dari Mekkah ke Madinnah. Hijrah Rasulullah SAW bersama para sahabat seharusnya tak hanya dimaknai secara fisik sebagai perpindahan tempat atau pembentukan komunitas baru di wilayah baru. Lebih daripada itu terdapat sebuah perubahan menuju komunitas muslim yang terstruktur, dalam keshalihan intelektual dan moral.Dalam kondisi kritis akibat intimidasi dan politik embargo kaum kafir, dakwah telah menemukan bentuknya yang baru. Menegara dalam bingkai jihad fisabilillah. Kaum muslimin di Madinnah tumbuh sebagai kekuatan baru baik secara politik, ekonomi, sosial, teknologi, militer dan lainnya. Sebuah hijrah menuju masyarakat madani yang berperadaban tinggi.Kemudian relevansi yang bisa kita tarik hari ini adalah bahwa nilai-nilai dan semangat yang melatari peristiwa bersejarah tersebut seyogyanya dapat dijadikan referensi guna merekayasa kebangkitan umat dan negeri ini dalam segenap dimensi kehidupan. Bagaimana melakukan transformasi masyarakat di setiap lini sosialnya secara utuh dan berkesinambungan menuju model komunitas yang sesuai dengan kebutuhan zamannya, dan yang terpenting memiliki mentalitas, cara berpikir dan sikap kolektif yang benar dan mapan dalam menyikapi apapun yang mereka namakan sebagai masalah. Sehingga umat setidaknya dapat bangkit dari stagnasi untuk kemudian berkompetisi di tengah modernitas saat ini dan tidak semakin larut dideru masalah, hanyut terarusi dera kemiskinan, kebodohan hingga konflik internal.

Umat harus dicerahkan bukan hanya dicerdaskan. Inilah esensi dari pendidikan sebagai industri manusia intelektual.Sebuah sistem reproduksi masyarakat dengan kualifikasi peradaban. Pendidikan akan merumuskan generasi yang akan mewarisi negeri, mengolah SDM (human capital) dengan visi masa depan melalui levelisasi kompetensi dan berbagai institusi formal maupun informal milik pemerintah maupun swasta. Memberantas wabah kebodohan masyarakat dengan definisi yang seluas-luasnya atau dengan kata lain harus dapat menjamah setiap lini kehidupan sosial. Kebodohan yang menimpa mayoritas masyarakat lebih tepat dikatakan sebagai problem sosial daripada problem personal (karena kemalasan, cacat atau inkondusifitas lingkungan),(Rekayasa sosial, Jalaluddin Rakhmat). Sebenarnya sistem politik, ekonomi dan sosial bangsa inilah yang semakin mempersempit ruang bagi masyarakat untuk menikmati pendidikan yang layak. Kapitalisme, kesenjangan sosial, kemiskinan hingga sistem pendidikan kita sendiri yang telah terdisorientasi hingga kontribusinya tak cukup efektif untuk mencerdaskan bangsa apalagi mencerahkannya.
MARI MENCETAK PEMIMPIN

Oleh karena itu, kita perlu mengupayakan sebuah perubahan sosial (social engineering) untuk menata kembali dinamika nilai pada individu hingga sistem sosial di tingkat kelompok masyarakat serta institusi negara, terutama menyangkut tema pendidikan. Salah satu ideas yang perlu dikembangkan adalah nilai kepemimpinan.
Saya jadi teringat pada paparan Bukhari Nasution dalam Forum Indonesia Muda V yang mengritisi sistem pendidikan Indonesia yang sejauh ini dinilai hanya mampu mencetak manusia bermental pekerja beserta skill-skill teknis dan praktis. Di kebanyakan ruang-ruang kelas kita senantiasa dimotivasi untuk bagaimana dapat segera lulus dan bekerja sebagai karyawan/ buruh di sebuah perusahaan besar dengan tingkat gaji tinggi.Tidak lebih. Ekstrimnya, mayoritas produk pendidikan Indonesia hanya dapat setara dengan kaum sudhra atau kasta terendah dalam kelas sosial.Sistem yang sudah tidak relevan dengan tuntutan zaman ini akan menjadikan Indonesia semakin kerdil terinjak hegemoni bangsa asing.Kurikulum kita selama ini belum berorientasi pada pembentukan manusia Indonesia dengan karakter dan kompetensi kepemimpinan dengan basis keilmuannya masing-masing.Sistem pendidikan formal kita belum menjawab kebutuhan akan pentingnya sebuah visi/ misi, komunikasi, kapasitas manajerial, decision making serta sofskill lain yang sebenarnya dapat dipadukan melalui metode belajar mengajar. Karena keilmuan yang digerakkan dan diarahkan melalui nilai-nilai di atas akan mendorong terciptanya karya-karya dan kemanfaatan yang lebih besar. Tidak seperti Jepang atau negara maju lainnya, sejak dini kita belum diarahkan dan dididik untuk berpikir strategis sehingga kita cenderung ikut-ikutan, dan pasif menyikapi permasalahan.Tidak hanya 5W+1H, tapi ditambah dengan pertanyaan berapa waktu dan biaya yang diperlukan sebagai wujud pentingnya efisiensi dan produktivitas suatu konsep atau aktifitas. Kita bisa melihat bagaimana sekolah atau perguruan tinggi swasta Indonesia dengan basis etnis China misalnya, ternyata memiliki kurikulum pendidikan yang mereka desain secara mandiri mulai dari buku-buku yang diberlakukan hingga metode pembelajarannya. Mereka tidak mungkin menerapkan kurikulum yang disediakan pemerintah yang memang terasa sempit atau out of date. Maka tak perlu heran apabila siswa-siswi mereka begitu bebas berinovasi dan mampu menciptakan perangkat elektronik serta robotika bahkan hingga memiliki hak paten.Mereka mendominasi pos-pos eksekutif di perusahaan atau sukses dengan bisnis multinasional. Sementara pelajar-pelajar Indonesia?
Dengan mengintegrasikan intelektualitas dan karakter kepemimpinan dalam suatu sistem pembelajaran, wacana kebangkitan bangsa ini akan semakin menemukan bentuk riilnya. Kepemimpinan tidak hanya dapat terlahir secara otodidak melalui pengalaman atau gelombang resistensi terhadap kolonal atau rezim tirani seperti yang terjadi pada para tokoh pemimpin bangsa dulu (Agus Suwignyo). Melainkan ia harus benar-benar dirumuskan dan dikembangkan sejak dini. Bukankah imperialisme modern masih mencengkeram bangsa ini? Bukankah-menurut Samuel P.Hutington, umat Islam dengan umat lainnya kedepan akan dihadapkan pada sebuah benturan peradaban (clash of civilization) ? Bersambung….. (FEBRI)

Add comment Juli 11, 2008


Time as Sword

November 2009
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Lembar Pribadi

Arsip

Blogroll

DIRECTOR of CHANGE site..

Yang Hot In Here

Menu

Sebuah oase idealisme di belantara realitas. Eksistensi sebuncah semangat yang mengalir deras untuk terus belajar dan menjadi lebih baik. Disertai harapan untuk dapat berkontribusi bagi upaya pencerdasan umat & bangsa serta membangun kembali izzah (kemuliannya).

Komentar Terakhir

Flickr Photos

acceptance

Cardiac

Mirror that Reflects

More Photos