Posts filed under 'KAMMI'

MENGGUGAT Kebangkitan…ngaca yuuk !

Gaung reformasi yang telah tertabuh 10 tahun yang lalu, telah beresonansi dan tergradasi dalam lirih bangsa yang ringkih. Dalam nada letupan amarah, keroncong kelaparan, hingga isak ratapan korban bencana dan keangkuhan zaman. Angin perubahan itu terasa kering dan masyarakat seperti menyesali lembar karya sejarah mereka sendiri. Prestasi keruntuhan rezim Orde Baru 10 tahun lalu rasanya tak indah lagi untuk dikenang. Karena logika masyarakat lebih mudah mendefinisikan harga BBM dan TDL daripada kebebasan ber`ekspresi` atau transparansi politik Kini harga-harga itu kian melambung tinggi hingga tak sedikit dari mereka yang mencekik leher sendiri. Masyarakat kian tempramental dan mudah terprovokasi. Hingga tak jarang aksi premanisme menjadi solusi konflik antar kelompok sosial, tindakan anarkis menjadi sarana menumpahkan kekecewaan dan protes pada kebijakan pemerintah.

Terbukanya kran demokrasi dan HAM sebagai produk positif reformasi telah disalahgunakan melebihi batas proporsionalnya. Berbagai budaya, paham dan pengaruh asing atas nama globalisasi telah begitu mudah menembus batas teritori dan imunitas keberadaban serta martabat kemanusiaan kita sebagai bangsa. Dari majalah Playboy hingga skandal amoral anggota DPR RI, dari Miss Waria hingga Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Keyakinan. Sebagian besar faksi politik menjadikan ruang demokrasi publik sebagai medan perang terbuka demi ambisi kekuasaan. Begitu praktis dan pragmatis. Korupsi merajalela, kolusi meratulela. Pemerintah bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, terjebak dalam kubangan hutang dan permainan sistemik yang direkayasa korporatokrasi internasional melalui IMF, Bank Dunia, AS-Zionis serta korporasi asing yang terus menerus menggerus sumber daya alam dan manusia Indonesia. Not state within a state, but state above the state. Sejatinya merekalah yang telah memiskinkan kita sampai saat ini, entah sampai kapan.

Adalah suatu ironi ketika bangsa yang sedang sakit ini justru dihuni oleh komunitas muslim terbesar dunia. Jarak antara realitas umat dan cita-cita peradaban itu kini begitu terbentang jauh. Allah SWT berfirman, Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu beriman. (QS:Ali Imran-139).
Kebangkitan umat adalah sebuah keniscayaan sejauh kesiapan kita untuk menyiapkan sumber daya strategis serta teknis yang terorganisir guna menyokongnya. Sejauh mana umat secara kolektif telah memiliki perspektif dan visi yang sama tentang kondisi kekinian dan tuntutan masa depan itu sendiri. Karena prestasi perubahan tidak akan mungkin terealisasi tanpa adanya perubahan mendasar pada ruang paradigma dan emosi kolektif dalam memaknai dan merasa. Dalam konteks ini, umat harus disatukan di tengah keragaman manhaj dan ranah gerakannya.
Di tengah jatuhnya pamor materialisme dan kapitalisme yang telah gagal dalam membangun peradaban yang manusiawi dan mensejahterakan dunia (hanya mampu menghasilkan hutang luar negeri, peperangan serta kesenjangan sosial), Islam kini tampil sebagai solusi alternatif. Ditambah lagi dengan rapuhnya gerakan liberal/ sekularisasi yang rapuh baik secara sustansial-tanpa konsep yang orisinal, metodologi yang kokoh serta output empiris yang sukses-maupun secara struktur karena mengandalkan dukungan politik, dana dan media Barat. Gerakan islamisasi kampus di berbagai belahan dunia islam melalui para aktivis dakwah, susksesnya konsep ekonomi Islam yang kini semakin banyak diaplikasikan oleh negara asing, hingga munculnya harakah-harakah Islamiyah yang cukup massif dan eskalatif telah cukup menjelaskan tanda-tanda fajar kebangkitan itu akan segera tiba.
Dan kebangkitan itu, menurut Syaikh Yusuf al-Qaradhawi diharapkan dapat dimulai dari Indonesia. Oleh karena itu, kita harus dapat menyiapkan momentum kepemimpinan umat untuk menyambut estafeta berikutnya guna mengakhiri status quo yang pro terhadap stagnasi dan degradasi bangsa saat ini. Namun pertanyaannya, sejauh mana kesiapan kita ?. Di tengah arus modernisasi, tantangan IPTEK, sengitnya percaturan politik, pergolakan kemiskinan dan kebodohan, era kedigdayaan militer serta permasalahan multidimensi bangsa saat ini, kita membutuhkan pemimpin-pemimpin dengan akal raksasa, mental baja, dan tangan yang perkasa untuk mengemban serta membahasakan nilai-nilai perubahan dan peradaban Islam tersebut. Para negarawan yang siap mengisi ruang-ruang strategis penentu kebijakan di setiap lini sistem pemerintahan sesuai kompetensi mereka masing-masing. Mereka tidak saja memiliki spesialisasi, namun juga keunggulan untuk memimpin perubahan.

KAMMI sebagai salah satu pelaku sejarah reformasi, memiliki konsep muslim negarawan. Bukan muslim politisi. Bedanya-menurut Nurcholis Majid, politisi bekerja untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Sementara negarawan bekerja untuk kepentingan bangsa dan generasi masa depan. Muslim Negarawan merupakan interpretasi dari sosok pemimpin masa depan yang tangguh sesuai visi gerakan KAMMI. Melalui buku Menyiapkan Momentum, akh Rijalul Imam mengurai Lima Elemen Kunci seorang Muslim Negarawan, diantaranya :
Memiliki basis ideologi Islam yang mengakar, memiliki basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, Idealis dan konsisten, Berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa, serta Mampu menjadi perekat komponen bangsa dalam upaya perbaikan.
Memang jika kita memahami 6 kompetensi kritis yang telah digariskan dalam manhaj Muslim Negarawan, maka yang selalu menjadi pertanyaan adalah apakah kita sudah memiliki model riil atau output empiris yang bisa membuktikan validitas manhaj tersebut?. Sekali lagi, idealita pemimpin kebangkitan bangsa masih jauh dari realita pemudanya hari ini. Siapakah yang akan merebut piala kepahlawanan negeri ini? Siapakah yang siap menata ulang taman Indonesia ini ? Siapapun dia, yang jelas bangsa Indonesia melalui cahaya Islam akan segera terangkat dari keterpurukannya. Allah SWT telah menjanjikan keabadian Islam dan ketinggian peradabannya. Entah kapan, entah ada orang yang mau mengusahakannya atau tidak.
Hanya ada pilihan, apakah kita hanya akan menjadi penonton di batas apatisme atau bergabung dalam lokomotif perjuangan dalam lintasan dengan 2 batas. Menjadi pengukir sejarah kemenangan atau terukir gugur dalam syahid pertempuran. (abanknanda)-(ruang syuro B. Fath, 050608-22:55 WIB)

Add comment Juli 11, 2008

Liburan Ceria 2008…wow asyiiik!!

NANTI DEH

Add comment Juli 11, 2008


Time as Sword

November 2009
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Lembar Pribadi

Arsip

Blogroll

DIRECTOR of CHANGE site..

Yang Hot In Here

Menu

Sebuah oase idealisme di belantara realitas. Eksistensi sebuncah semangat yang mengalir deras untuk terus belajar dan menjadi lebih baik. Disertai harapan untuk dapat berkontribusi bagi upaya pencerdasan umat & bangsa serta membangun kembali izzah (kemuliannya).

Komentar Terakhir

Flickr Photos

acceptance

Cardiac

Mirror that Reflects

More Photos