Partai Baru…Solusi atau Masalah Baru ?

Juli 28, 2008

Terbukanya kran demokrasi pasca Reformasi 1998 telah berdampak pada meningkatnya antusiasme & partisipasi publik untuk turut mengawal dan berkontribusi aktif dalam jagad politik serta pemerintahan bangsa ini. Kebebasan berekspresi masyarakat yang ditopang oleh media dan berbagai institusi politik telah menghadirkan iklim baru demokrasi yang lebih dinamis hingga kadang unpredictable. Hasrat yang selama ini tertahan akibat rezim represif Orba kini meletup-letup dalam bingkai kompetisi untuk memperebutkan kekuasaan dan kendali pemerintahan. Saling unjuk gigi, melancarkan manuver taktis, lobi sini lobi sana. Mulai dari wajah lama hingga pemain baru, para elite politik negeri ini kian meriuhkan pentas demokrasi terbuka yang tak pernah kehabisan cerita. Sebagian dagelan, sebagian hanya eforia.

Hingga kini menjelang Pemilu 2009, suhu politik mulai memanas dengan munculnya partai-partai politik baru bersama tokoh dan bahkan calon presiden yang akan diusung masing-masing nanti. Beberapa merupakan wajah lama yang mencoba menggalang dukungan publik melalui partai politik yang didirikannya. Yang begitu terlihat menonjol adalah Wiranto dengan Partai Hanura-nya, Prabowo Subianto dengan Partai Gerindra-nya, Sutiyoso yang melepas masa lajangnya dengan dukungan oleh 12 Partai lama dan 16 partai baru. Ditambah lagi Yusril Ihza Mahendra dengan PBB, Sutrisno Bachir melalui PAN serta Megawati Soekarnoputri (PDI-P) juga sudah mulai muncul ke permukaan. Bahkan muncul isu calon incumbent dari pemerintahan saat ini.
Fenomena mewabahnya euforia politik telah mendorong lahirnya nama-nama baru seperti Partai Kedaulatan Rakyat (PKR), Partai NKRI, Partai Persyarikatan Rakyat (PPR), dan beberapa partai Kristen membentuk Partai Kristen Bersatu. Terdapat partai baru pecahan PDI-P yakni Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) dan Partai Matahari Bangsa (PMB) sebagai pecahan dari PAN, Partai KP-Partai Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS) dan Partai Pesyarikatan Rakyat (PPR) yang digagas oleh aktivis buru, LSM, mahasiswa dan sejenisnya. Latar belakang pendirian parpol ini bisa karena adanya keinginan membangun alat politik baru karena yang lama sudah tidak memadai, adanya konflik internal di partai mereka yang lama hingga akhirnya memisahkan diri atau bersatunya partai-partai yang pada pemilu sebelumnya hanya menjaring suara yang kecil dan terancam mekanisme verifikasi maupun electoral threshold. Namun yang paling mendasar adalah bahwa partai politik di negeri ini merupakan satu-satunya alat/ kendaraan bagi seseorang untuk dapat menduduki jabatan-jabatan publik dari tingkat Bupati, DPD hingga kursi Presiden. Meskipun muncul wacana calon/jalur independen, namun sistem kepartaian yang demikian telah mendarah daging ini tetap menjadi faktor utama bagi sebagian besar masyarakat untuk menggunakan hak politiknya.
Entah apakah secara pribadi/ kolektif terpanggil untuk berkontribusi menyelesaikan permasalahan bangsa atau semata-mata ingin melampiaskan ambisi kekuasaannya di masa transisi ini. Ketika reformasi masih belum menemukan bentuknya secara utuh dan establish. Rasakanlah betapa rapuhnya soliditas kebangsaan kita, hingga harus terburai berkeping-keping menguntai ego untuk sekadar menguasai, bukan memimpin. Rela menghamburkan banyak uang dan mengejar popularitas demi menggenggam amanah yang seharusnya tidak diminta. Dan sepertinya syahwat kekuasan itu telah memutus urat malu partai/ tokoh politik yang nyata-nyata menunjukkan kinerja yang kontraproduktif terhadap implementasi visi misi kampanyenya hingga rakyat harus menelan ludah kekecewaan untuk kesekian kalinya.
Oleh kerena itu menurut beberapa survey yang dilakukan, tingkat kepuasan publik terhadap partai-partai politikpun semakin menurun. Mengingat para calon pemilih kini telah jenuh dengan janji-janji manis dan retorika normatif, atau mereka sudah demikian cerdas dan selektif dalam menyikapi kampanye partai/ tokoh politik tertentu. Perlahan tapi pasti, mereka mencoba beradaptasi dan membangun kesiapan baik pola pikir maupun mental guna bertahan di tengah era praktis dan pragmatis saat ini. Masyarakat lebih mengedepankan program dan karya-karya riil partai daripada isu rasialisme/ sentimen moral yang diusungnya. Partai yang konsisten dengan idealismenya, bersih dan terbukti membawa solusi perubahan nyatalah yang akan mampu meraih simpati calon pemilih nantinya. Hadirnya warna-warni bendera baru menjelang pesta demokrasi 2009 nanti seharusnya dapat menjadi solusi bukan masalah baru di negeri 1001 masalah ini. Wallahu`alam bishawab.

Entry Filed under: Sosial & Politik. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Time as Sword

Juli 2008
S S R K J S M
    Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Lembar Pribadi

Arsip

Blogroll

DIRECTOR of CHANGE site..

Yang Hot In Here

Menu

Sebuah oase idealisme di belantara realitas. Eksistensi sebuncah semangat yang mengalir deras untuk terus belajar dan menjadi lebih baik. Disertai harapan untuk dapat berkontribusi bagi upaya pencerdasan umat & bangsa serta membangun kembali izzah (kemuliannya).

Komentar Terakhir

Flickr Photos

Abandoned Paradise

Untitled

Umbrella Rainbow

More Photos