Waktu..aku Menyesal !

Juli 11, 2008

Dalam mengarungi bahtera hidup ini, waktu adalah modal atau bekal yang sifatnya unrenewable dan juga unrepeatable. Seberapa besar waktu yang terbingkai oleh karya, akan berkaitan dengan produktivitas serta keberhasilan kita dalam mengelola hidup. Jika kita analogikan dengan koordinat kartesian, maka waktu dan karya (amal) bagaikan nilai x dan y yang mendeskripsi rentang hidup kita dalam suatu fungsi.
Waktu adalah penggalan masa dan dia adalah momentum. Penting atau tidak, bermanfaat atau sia-sia adalah bagaimana cara kita memaknainya. Ada efek menetes (trickle down effect) dimana setiap amal yang kita lakukan dalam suatu waktu akan berpengaruh pada kegiatan yang kita rencanakan atau konsekuensi yang menimpa kita di hari esok. Sehingga seorang yang sukses menurut saya terindikasi dari bagaimana dia dengan cerdas mengalokasikan semenitpun miliknya hanya untuk aktifitas yang produktif / bermanfaat baik yang terencana maupun secara tidak sengaja harus dilakukan. Dia mampu mepertemukan ketegasan dan fleksibilitas terhadap pengaruh lingkungan yang dapat mengganggu alur harian yang teragendakan sebelumnya baik berupa ajakan teman atau kegiatan yang mengundang antusiasme sekalipun. Agar kita bisa menjaga diri hari ini dan menyelamatkan hari depan dalam keteraturan dan keberhasilan.
Sebenarnya cukup banyak alasan yang bisa menerangkan tentang nilai waktu dan urgensi mengelolanya secara efektif. Saya rasa di era global yang kompetitif saat ini dimana informasi dan komunikasi begitu cepatnya bergulir dan terdistribusi, mayoritas masyarakat dunia secara normatif sudah terkondisikan untuk memahaminya, hingga premis waktu adalah uang biasa terdengar dimana-mana. Namun dalam tataran praktis agaknya banyak kendala baik dari pribadi maupun kondisi lingkungan yang menjadikannya sulit terimplementasi. Hal itu juga berlaku pada saya sebagai seorang mahasiswa yang seringkali diliputi tanggung jawab akademis maupun permasalahan amanah di beberapa organisasi yang saya geluti. Banyak yang mengatakan saya aktivis karena kesibukan non-akademis tampaknya lebih banyak menyita waktu dan perhatian saya dibandingkan hal-hal yang berkaitan usaaha mengakrabi diri dengan buku kuliah atau tugas praktikum. Hingga di dalam kelaspun meski sang dosen sudah berkali-kali mengusap peluh atau mengganti berlembar-lembar transparansi (slide), saya tetap asyik dengan pikiran yang mengembara ke ‘dunia lain’. Padahal itu tidak benar, hampir sebagian besar waktu dan aktifitas yang saya lakukan demikian kontraproduktif dan tidak efektif. Terus terang, rasanya waktu yang saya miliki di kontrakan banyak dihabiskan dengan hal-hal yang tidak jelas, jika ditinjau berdasarkan kelumrahan seperti apa mahasiswa kebanyakan. Prestasi akademis saya terus berfluktuasi meski lebih sering memburuk, pun dengan karier di kampus yang tidak terbangun semulus yang saya kira.
Seorang aktifis sejati adalah mereka yang mampu menjaga prinsip keseimbangan antara tangung jawab akademis maupun diluarnya. Mereka focus pada beberapa bidang minat/bakat yang menjadikannya berprestasi. Tidak mencoba menjadi kutu loncat, yang hinggap di setiap organisasi yang belum tentu sesuai dengan arah cita-citanya, tidak mampu berkontribusi secara maksimal karena harus membagi waktu/energi dengan tempat lainnya hingga mereka tidak mampu menghasilkan karya atau prestasi yang signifikan. Kembali ke permasalahan waktu, seringkali saya merasa bingung mengenai apa yang harus saya lakukan ketika mengahdapi waktu-waktu senggang, karena sama sekali saya tidak memiliki perencanaan yang jelas terkait aktifitas hari itu. Sebaliknya penyesalan muncul ketika pada suatu waktu deadline tugas baik dari dosen maupun kegiatan tertentu datang bersamaan, sehingga hal tersebut membuat saya tertekan, lelah dan tidak mampu menyelesaikannya dengan optimal. Ketika saat itu datang, ingin sekali saya memutar kembali waktu dan memperbaiki kesalahan.

Saya kini menyadari ternyata rekan-rekan yang sukses di sekitar saya adalah orang-orang yang mampu memanage waktunya dengan baik, mampu memanfaatkan hubungan baik dengan orang lain, serta mampu menjadikan kesempatan sekecil apapun untuk menjadikannya peluang untuk meraih keberhasilan dalam hal apapun. So, mulai sekarang saya ber-azzam untuk menata kembali hidup ini dengan semangat menghargai waktu dan kesempatan….(abank)

Entry Filed under: My Opinion. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Time as Sword

Juli 2008
S S R K J S M
    Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Lembar Pribadi

Arsip

Blogroll

DIRECTOR of CHANGE site..

Yang Hot In Here

Menu

Sebuah oase idealisme di belantara realitas. Eksistensi sebuncah semangat yang mengalir deras untuk terus belajar dan menjadi lebih baik. Disertai harapan untuk dapat berkontribusi bagi upaya pencerdasan umat & bangsa serta membangun kembali izzah (kemuliannya).

Komentar Terakhir

Flickr Photos

il paese che muore

290/365

Villa Moderna

More Photos