Saatnya Pemuda Menata Taman Negeri
Juli 11, 2008
Sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah (pemikiran/idealisme), pemuda adalah pengibar panji-panjinya (Hasan Al Banna). Soekarno, founding father Indonesia dan Presiden pertama Republik Indonesia pernah menyampaikan dalam sebuah pidatonya bahwa ia sanggup mengguncangkan dunia hanya dengan sepuluh pemuda yang hatinya berkobar. Pemuda sarat vitalitas serta memiliki sense idealisme yang kuat hingga menjadikan mereka menonjol dalam tiap zaman dalam tiap momen perubahan. Dalam beberapa catatan sejarah, sensitivitas kaum pemuda membuatnya berada di garda terdepan dalam upaya mengakhiri suatu rezim yang dinilai telah menciderai amanat masyarakat. Mereka mudah gelisah. Mereka suka resah. Indonesia telah melahirkan angkatan `28, angkatan `66, angkatan 74 dan angkatan 98 yang berasal dari kalangan mahasiswa, memproklamirkan diri mereka sebagai agent of change dan memimpin aksi perubahan hingga menggulingkan suatu rezim tiran. Mereka adalah kaum minoritas kreatif dalam komunitas awam, diantara sekian banyak pemuda/i yang sudah kehilangan eksistensinya karena ekses negatif modernitas saat ini. Mereka adalah tunas baru yang sedang merekah, dan siap menggantikan induknya yang telah layu.
Namun hingga kini cita perubahan untuk menyelamatkan negeri ini dari penyakit kronisnya seolah menjadi utopia semata karena Indonesia belum juga terangkat nasibnya. Peran pemuda selama ini dirasa belum cukup produktif dan koheren dengan kapasitas intelektual mereka baik secara individu maupun kolektif. Selama ini mereka cenderung menggagas aksi-aksi yang reaktif, bergerak sesudah masalah menemukan bentuknya di ruang public. Lalu melancarkan kritik dan tuntutan-tuntutan yang mereka sendiri sulit menderivasikannya dalam ruang praktis. Permasalahan bangsa yang sedemikian kompleks menuntut pemuda yang proaktif, berpikir lateral ke depan dan bertindak sebelum masalah itu menjadi riil. Mereka secara independen melakukan pengawalan kebijakan atau perilaku politik pemerintah entah itu dengan tumpah di ruas-ruas jalan atau menggagas diskurkus yang solutif, dari wacana hingga menjadi gerakan. Melakukan upaya pencerdasan dan pencerahan sosial untuk membuka peluang partisipasi masyarakat, sekali lagi berdasarkan kompetensi atau keilmuan yang mereka miliki. Oleh karena itu fungsi pemuda khususnya mahasiswa sudah mengarah kepada director of change, menggerakkan dan memimpin perubahan di setiap lini kehidupan masyarakat, menjaga agar agenda perbaikan tersebut dapat terencana dengan desain yang matang serta berkesinambungan. “Tidak serampangan,” kata Anas Urbaningrum.
Krisis yang berkepanjangan, dan belum terangkatnya nasib bangsa saat ini sebenarnya disebabkan oleh belum adanya visi dan kepemimpinan yang capable guna menjangkau serta menginteraksi masalah yang sedemikian kompleks. Capable dalam artian minimnya kreativitas dan progresivitas ide serta ikhtiar mengeksekusinya. Tidak kolot dan kental kepentingan politis disana sini.
Kita membutuhkan wajah-wajah yang lebih segar, tangan-tangan yang lebih kekar untuk secepatnya menyambut tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini. Maksud saya, kita membutuhkan pemuda. Pemuda intelektual yang kini tampaknya harus melakukan serangkaian akselerasi guna menghadapi regenerasi kepemimpinan di tubuh negeri. Pemuda yang senantiasa memasifikasi diri, membangun kesadaran di antara rekan-rekan seusianya untuk aktif dalam barisan-barisan kepedulian akan nasib bangsa. Sehingga mereka dapat segera mengetuk palu, menggantikan bapak-bapak yang sudah terlalu uzur untuk menyambut atau memikirkan reformasi, bahkan revolusi. Wacana potong generasi sempat mengisi ruang dengar public terkait dengan keberadaan para pemimpin muda yang sudah begitu diperhitungkan kapasitas dan prestasinya, baik dalam lingkup partai politik, pengusaha, institusi pendidikan hingga parlemen.
Kita mengenal rektor UI termuda dalam sejarah yakni Prof. Dr Gumilar, lalu rector Universitas Paramadina Anis Baswedan, yang baru berusia 38 tahun saat menjabat, lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua BPK Anwar Nasution, Anas Urbaningrum-Ketua DPP Partai Demokrat hingga Fahri Hamzah-anggota DPR dari angkatan 98. Mereka adalah contoh yang membuktikan betapa paradigma kini sudah berubah mengikuti zamannya, zamannya para pemuda. Oleh karena itu, semakin kuat premis yang mengatakan bahwa kepemimpinan pemuda hanya soal kesempatan dan kepercayaan bukan soal kemampuan. (Ubaidillah Nugraha).
Institusi perguruan tinggi sebagai iron stock supplier,merupakan salah satu sarana untuk menyiapkan insan-insan muda intelektual yang akan terjun sebagai abdi masyarakat. Kehidupan kampus beserta organisasi kemahasiswaan di dalamnya turut andil dalam mengisi ruang kapasitas dan membentuk karakter mereka khususnya sebagai pemimpin. Eksistensi organisasi kepemudaan tidak bisa dipungkiri cukup berperan dalam mendinamisasi pergerakan mahasiswa yang demikian menemukan tempatnya. KAMMI merupakan salah satu wadah perjuangan, akselerator bagi para kader muslim bangsa dan nantinya akan menjadi corong bagi terlahirnya pemimpin masa depan yang akan mengangkat Indonesia dari lembah keterpurukan. Dengan platform Muslim Negarawan yang diterjemahkan ke dalam tujuh kompetensi kritis yakni Pengetahuan Ke-Islaman, Wawasan Ke-Indonesiaan, Kepakaran & profesionalisme, Kepemimpinan, Diplomasi & jaringan serta Kredibilitas Moral, maka KAMMI akan muncul sebagai kekuatan penggerak yang mengikis tradisi kebobrokan dan stagnasi selama ini melalui kaderisasi kepemimpinan dengan visi kebangsaannya. Namun gagasan yang begitu ideal sepertinya sulit direalisasikan dalam tataran praktis mengingat kita belum mempunyai gambaran utuh bahkan sosok riil saat ini yang memenuhi kualifikasi seorang muslim negarawan. Meskipun telah dirumuskan secara garis besar bagaimana manhajnya, namun jarak anatara realita dan idealita itu begitu panjang terbentang hingga waktu yang diperlukan memang tidak singkat untuk mereproduksi secara massal kader muslim negarawan yang nantinya (meminjam istilah Anis Matta) akan menata ulang taman Indonesia ini. Wallahu`alam bishawab.
Entry Filed under: My Opinion. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed