Kenang-kenanglah kami, teruskan-teruskanlah jiwa kami…!
Juli 11, 2008
Kita telah mengenal betapa banyak tokoh pejuang masa lalu yang menghimpun diri dalam peluh pengorbanan, isak teriakan kebebasan hingga tawa di ujung kematian. Mencoba mengenyah penjajahan yang membelenggu, meniti jalan panjang perjuangan, harga mati kemerdekaan, harga diri bangsa yang terlalu mahal untuk terbayarkan. Mereka terpanggil dan terpilih untuk melakukan pembelaan, menjadi martir yang menegakkan pilar kebangkitan sebagai sebuah bangsa. Kegelisahan, kesadaran serta keberanian yang terakumulasi begitu cepatnya, mengalir bersama semangat pengorbanan, emosi nasionalisme, dan gairah jihad pertarungan. Allahu Akbar..! Membahana, beresonansi di ruang jiwa. Meletup-letup, menghasilkan energi kepahlawanan yeng mengombak berderu, melebihi kecepatan peluru dan dentuman mortir, mengoyak benteng kolonial yang merapuh bersama kedatangannya. Hingga kita dapat menghirup udara kebebasan tanpa rasa takut yang meliputi keseharian dan mengibarkan merah putih setinggi-tingginya, setinggi hakikat keberadaannya kini.
Mereka telah menulis sejarah, hingga pergi meninggalkan kesan, sekaligus pesan dibalik prestasi kemerdekaan. Kenang-kenanglah kami, teruskan-teruskanlah jiwa kami. Itulah penggalan sebuah sajak yang mengisyaratkan cita kemerdekaan yang belum tuntas dan kini menjadi tantangan generasi pewaris negeri ini. Tanpa bambu runcing, senjata api bahkan darah dan nanah. Keharusan untuk mewarna makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan arah perkembangan zaman saat ini.
Sekarang mungkin kita hanya akan menemukan semangat kepahlawanan dan patriotisme secara tekstual dalam kisah-kisah klasik kitab sejarah. Semuanya hanya akan menjadi romantisme masa lalu yang begitu sulit disadur dan diterjemahkan kembali dalam konteks interaksi kehidupan bangsa saat ini. Kita hanya bisa mengenang mereka melalui peringatan seremonial tahunan seperti Hari Kebangkitan Nasional, Proklamasi Kemerdekaan, Hari Pahlawan 10 Nopember ini dan lain-lain dengan sedikit sekali menghayati dan mengimplementasikan hakikat didalamnya, hampa makna.
Setelah 60 tahun proklamasinya, Republik Indonesia telah melalui beberapa fase kepemimpinan sejak orde Lama hingga era reformasi saat ini dimana estafet pemerintahan telah bergulir dan berupaya mengantarkan bangsa ini melalui jalan terjal demi cita-citanya. Namun belum adanya visi dan karakter kepemimpinan yang kuat, negeri ini seperti bingung dan tersesat dalam langkahnya sendiri. Entah mundur, maju atau berjalan di tempat. Indonesia malah semakin sesak oleh masalah dan musibah. Prof. Toshiko Kinoshita dari Universitas Waseda, Jepang pernah mengatakan bahwa orang Indonesia tidak pernah berpikir panjang. Sedihnya lagi karakter seperti itu bukan hanya di kalangan masyarakat dari semua lapisan, tapi juga politisi dan pejabat pemerintah. Hal ini kemudian, menyebabkan Indonesia akan sulit bersaing dengan Cina dan Negara-negara Asia lainnya (Kompas, 24 Mei 2002). Sebagian besar pemimpin dan masyarakat berpola pikir pragmatis, dan hanya berorientasi sempit pada kepentingan pribadi atau golongan. Implikasinya muncul kasus korupsi, pelecehan seksual, kemiskinan, kebodohan, kebakaran hutan hingga konflik horizontal yang seolah membuat tanah air ini tidak nyaman lagi untuk dihuni.
Lalu entah sadar atau tidak, kita pun sedang memasuki babak baru imperialisme dimana hegemoni bangsa asing berupaya menghujamkan kukunya dalam-dalam mencengkeram Indonesia. Korporatokrasi dengan penjajahan multidimensi-sistemik memanfaatkan hutang luar negeri serta berbagai modus kerja sama asing terekayasa menimbulkan ketergantungan dan inferioritas (rendah diri) pemerintah. Parahnya hal tersebut diikuti karakter anti kerja keras dan fatalistis (mudah menyerah/putus asa) sebagian masyarakat dewasa ini. Sehingga kompleksitas masalah sedemikian jauh melampaui kapasitas kita untuk menjangkaunya. Dahulu kita dikenal sebagai bangsa pejuang, yang berhasil merebut hak kemerdekaan dengan tangan kita sendiri. Dengan semangat patriotis, mempertemukan keberanian dan kesabaran dalam perjuangan yang sulit dan tak singkat. Indonesia, di tengah krisis multidimensi, kini sedang menanti kelahiran pahlawan-pahlawannya yang baru. Sosok penggerak dengan integritas intelektual-moral yang siap membangunkan negeri ini dari tidur dan mimpi buruknya.
Mereka memiliki energi yang panjang, mengedepankan ikhtiar yang optimal daripada sesuatu yang instan, berdedikasi untuk membangun negeri melalui karya-karya besar sesuai kompetensinya masing-masing. Dari petani hingga konglomerat, pelajar hingga profesor, ibu rumah tangga hingga presiden, semuanya memiliki kesempatan untuk meraih piala kepahlawanan yang memang tidak dipergilirkan, namun untuk diperebutkan, kata Anis Matta. Selamat Hari Pahlawan.
Entry Filed under: My Opinion. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed