Hijrah Bangsa, Hijrah Pendidikan Kita…
Juli 11, 2008
Dari Mekkah ke Madinnah. Hijrah Rasulullah SAW bersama para sahabat seharusnya tak hanya dimaknai secara fisik sebagai perpindahan tempat atau pembentukan komunitas baru di wilayah baru. Lebih daripada itu terdapat sebuah perubahan menuju komunitas muslim yang terstruktur, dalam keshalihan intelektual dan moral.Dalam kondisi kritis akibat intimidasi dan politik embargo kaum kafir, dakwah telah menemukan bentuknya yang baru. Menegara dalam bingkai jihad fisabilillah. Kaum muslimin di Madinnah tumbuh sebagai kekuatan baru baik secara politik, ekonomi, sosial, teknologi, militer dan lainnya. Sebuah hijrah menuju masyarakat madani yang berperadaban tinggi.Kemudian relevansi yang bisa kita tarik hari ini adalah bahwa nilai-nilai dan semangat yang melatari peristiwa bersejarah tersebut seyogyanya dapat dijadikan referensi guna merekayasa kebangkitan umat dan negeri ini dalam segenap dimensi kehidupan. Bagaimana melakukan transformasi masyarakat di setiap lini sosialnya secara utuh dan berkesinambungan menuju model komunitas yang sesuai dengan kebutuhan zamannya, dan yang terpenting memiliki mentalitas, cara berpikir dan sikap kolektif yang benar dan mapan dalam menyikapi apapun yang mereka namakan sebagai masalah. Sehingga umat setidaknya dapat bangkit dari stagnasi untuk kemudian berkompetisi di tengah modernitas saat ini dan tidak semakin larut dideru masalah, hanyut terarusi dera kemiskinan, kebodohan hingga konflik internal.
Umat harus dicerahkan bukan hanya dicerdaskan. Inilah esensi dari pendidikan sebagai industri manusia intelektual.Sebuah sistem reproduksi masyarakat dengan kualifikasi peradaban. Pendidikan akan merumuskan generasi yang akan mewarisi negeri, mengolah SDM (human capital) dengan visi masa depan melalui levelisasi kompetensi dan berbagai institusi formal maupun informal milik pemerintah maupun swasta. Memberantas wabah kebodohan masyarakat dengan definisi yang seluas-luasnya atau dengan kata lain harus dapat menjamah setiap lini kehidupan sosial. Kebodohan yang menimpa mayoritas masyarakat lebih tepat dikatakan sebagai problem sosial daripada problem personal (karena kemalasan, cacat atau inkondusifitas lingkungan),(Rekayasa sosial, Jalaluddin Rakhmat). Sebenarnya sistem politik, ekonomi dan sosial bangsa inilah yang semakin mempersempit ruang bagi masyarakat untuk menikmati pendidikan yang layak. Kapitalisme, kesenjangan sosial, kemiskinan hingga sistem pendidikan kita sendiri yang telah terdisorientasi hingga kontribusinya tak cukup efektif untuk mencerdaskan bangsa apalagi mencerahkannya.
MARI MENCETAK PEMIMPIN
Oleh karena itu, kita perlu mengupayakan sebuah perubahan sosial (social engineering) untuk menata kembali dinamika nilai pada individu hingga sistem sosial di tingkat kelompok masyarakat serta institusi negara, terutama menyangkut tema pendidikan. Salah satu ideas yang perlu dikembangkan adalah nilai kepemimpinan.
Saya jadi teringat pada paparan Bukhari Nasution dalam Forum Indonesia Muda V yang mengritisi sistem pendidikan Indonesia yang sejauh ini dinilai hanya mampu mencetak manusia bermental pekerja beserta skill-skill teknis dan praktis. Di kebanyakan ruang-ruang kelas kita senantiasa dimotivasi untuk bagaimana dapat segera lulus dan bekerja sebagai karyawan/ buruh di sebuah perusahaan besar dengan tingkat gaji tinggi.Tidak lebih. Ekstrimnya, mayoritas produk pendidikan Indonesia hanya dapat setara dengan kaum sudhra atau kasta terendah dalam kelas sosial.Sistem yang sudah tidak relevan dengan tuntutan zaman ini akan menjadikan Indonesia semakin kerdil terinjak hegemoni bangsa asing.Kurikulum kita selama ini belum berorientasi pada pembentukan manusia Indonesia dengan karakter dan kompetensi kepemimpinan dengan basis keilmuannya masing-masing.Sistem pendidikan formal kita belum menjawab kebutuhan akan pentingnya sebuah visi/ misi, komunikasi, kapasitas manajerial, decision making serta sofskill lain yang sebenarnya dapat dipadukan melalui metode belajar mengajar. Karena keilmuan yang digerakkan dan diarahkan melalui nilai-nilai di atas akan mendorong terciptanya karya-karya dan kemanfaatan yang lebih besar. Tidak seperti Jepang atau negara maju lainnya, sejak dini kita belum diarahkan dan dididik untuk berpikir strategis sehingga kita cenderung ikut-ikutan, dan pasif menyikapi permasalahan.Tidak hanya 5W+1H, tapi ditambah dengan pertanyaan berapa waktu dan biaya yang diperlukan sebagai wujud pentingnya efisiensi dan produktivitas suatu konsep atau aktifitas. Kita bisa melihat bagaimana sekolah atau perguruan tinggi swasta Indonesia dengan basis etnis China misalnya, ternyata memiliki kurikulum pendidikan yang mereka desain secara mandiri mulai dari buku-buku yang diberlakukan hingga metode pembelajarannya. Mereka tidak mungkin menerapkan kurikulum yang disediakan pemerintah yang memang terasa sempit atau out of date. Maka tak perlu heran apabila siswa-siswi mereka begitu bebas berinovasi dan mampu menciptakan perangkat elektronik serta robotika bahkan hingga memiliki hak paten.Mereka mendominasi pos-pos eksekutif di perusahaan atau sukses dengan bisnis multinasional. Sementara pelajar-pelajar Indonesia?
Dengan mengintegrasikan intelektualitas dan karakter kepemimpinan dalam suatu sistem pembelajaran, wacana kebangkitan bangsa ini akan semakin menemukan bentuk riilnya. Kepemimpinan tidak hanya dapat terlahir secara otodidak melalui pengalaman atau gelombang resistensi terhadap kolonal atau rezim tirani seperti yang terjadi pada para tokoh pemimpin bangsa dulu (Agus Suwignyo). Melainkan ia harus benar-benar dirumuskan dan dikembangkan sejak dini. Bukankah imperialisme modern masih mencengkeram bangsa ini? Bukankah-menurut Samuel P.Hutington, umat Islam dengan umat lainnya kedepan akan dihadapkan pada sebuah benturan peradaban (clash of civilization) ? Bersambung….. (FEBRI)
Entry Filed under: My Opinion. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed