Archive for Juli, 2008
Partai Baru…Solusi atau Masalah Baru ?
Terbukanya kran demokrasi pasca Reformasi 1998 telah berdampak pada meningkatnya antusiasme & partisipasi publik untuk turut mengawal dan berkontribusi aktif dalam jagad politik serta pemerintahan bangsa ini. Kebebasan berekspresi masyarakat yang ditopang oleh media dan berbagai institusi politik telah menghadirkan iklim baru demokrasi yang lebih dinamis hingga kadang unpredictable. Hasrat yang selama ini tertahan akibat rezim represif Orba kini meletup-letup dalam bingkai kompetisi untuk memperebutkan kekuasaan dan kendali pemerintahan. Saling unjuk gigi, melancarkan manuver taktis, lobi sini lobi sana. Mulai dari wajah lama hingga pemain baru, para elite politik negeri ini kian meriuhkan pentas demokrasi terbuka yang tak pernah kehabisan cerita. Sebagian dagelan, sebagian hanya eforia.
Hingga kini menjelang Pemilu 2009, suhu politik mulai memanas dengan munculnya partai-partai politik baru bersama tokoh dan bahkan calon presiden yang akan diusung masing-masing nanti. Beberapa merupakan wajah lama yang mencoba menggalang dukungan publik melalui partai politik yang didirikannya. Yang begitu terlihat menonjol adalah Wiranto dengan Partai Hanura-nya, Prabowo Subianto dengan Partai Gerindra-nya, Sutiyoso yang melepas masa lajangnya dengan dukungan oleh 12 Partai lama dan 16 partai baru. Ditambah lagi Yusril Ihza Mahendra dengan PBB, Sutrisno Bachir melalui PAN serta Megawati Soekarnoputri (PDI-P) juga sudah mulai muncul ke permukaan. Bahkan muncul isu calon incumbent dari pemerintahan saat ini.
Fenomena mewabahnya euforia politik telah mendorong lahirnya nama-nama baru seperti Partai Kedaulatan Rakyat (PKR), Partai NKRI, Partai Persyarikatan Rakyat (PPR), dan beberapa partai Kristen membentuk Partai Kristen Bersatu. Terdapat partai baru pecahan PDI-P yakni Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) dan Partai Matahari Bangsa (PMB) sebagai pecahan dari PAN, Partai KP-Partai Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS) dan Partai Pesyarikatan Rakyat (PPR) yang digagas oleh aktivis buru, LSM, mahasiswa dan sejenisnya. Latar belakang pendirian parpol ini bisa karena adanya keinginan membangun alat politik baru karena yang lama sudah tidak memadai, adanya konflik internal di partai mereka yang lama hingga akhirnya memisahkan diri atau bersatunya partai-partai yang pada pemilu sebelumnya hanya menjaring suara yang kecil dan terancam mekanisme verifikasi maupun electoral threshold. Namun yang paling mendasar adalah bahwa partai politik di negeri ini merupakan satu-satunya alat/ kendaraan bagi seseorang untuk dapat menduduki jabatan-jabatan publik dari tingkat Bupati, DPD hingga kursi Presiden. Meskipun muncul wacana calon/jalur independen, namun sistem kepartaian yang demikian telah mendarah daging ini tetap menjadi faktor utama bagi sebagian besar masyarakat untuk menggunakan hak politiknya.
Entah apakah secara pribadi/ kolektif terpanggil untuk berkontribusi menyelesaikan permasalahan bangsa atau semata-mata ingin melampiaskan ambisi kekuasaannya di masa transisi ini. Ketika reformasi masih belum menemukan bentuknya secara utuh dan establish. Rasakanlah betapa rapuhnya soliditas kebangsaan kita, hingga harus terburai berkeping-keping menguntai ego untuk sekadar menguasai, bukan memimpin. Rela menghamburkan banyak uang dan mengejar popularitas demi menggenggam amanah yang seharusnya tidak diminta. Dan sepertinya syahwat kekuasan itu telah memutus urat malu partai/ tokoh politik yang nyata-nyata menunjukkan kinerja yang kontraproduktif terhadap implementasi visi misi kampanyenya hingga rakyat harus menelan ludah kekecewaan untuk kesekian kalinya.
Oleh kerena itu menurut beberapa survey yang dilakukan, tingkat kepuasan publik terhadap partai-partai politikpun semakin menurun. Mengingat para calon pemilih kini telah jenuh dengan janji-janji manis dan retorika normatif, atau mereka sudah demikian cerdas dan selektif dalam menyikapi kampanye partai/ tokoh politik tertentu. Perlahan tapi pasti, mereka mencoba beradaptasi dan membangun kesiapan baik pola pikir maupun mental guna bertahan di tengah era praktis dan pragmatis saat ini. Masyarakat lebih mengedepankan program dan karya-karya riil partai daripada isu rasialisme/ sentimen moral yang diusungnya. Partai yang konsisten dengan idealismenya, bersih dan terbukti membawa solusi perubahan nyatalah yang akan mampu meraih simpati calon pemilih nantinya. Hadirnya warna-warni bendera baru menjelang pesta demokrasi 2009 nanti seharusnya dapat menjadi solusi bukan masalah baru di negeri 1001 masalah ini. Wallahu`alam bishawab.
Add comment Juli 28, 2008
30 MENIT MENGAMBIL KEPUTUSAN TEPAT
Jane Smith. Penerbit : PT. Elex Media Komputindo (th 2002)
Pentingnya Mengenali dan Mengambil Keputusan.
Sebagai manusia yang tumbuh di tengah interaksi social, bergelut dengan berbagai aktivitas kehidupan pribadi atau pekerjaan dengan standar kualitas tertentu, adalah sebuah kewajaran apabila kita sering menjumpai beragam pemasalahan, mulai dari yang paling sederhana/ ringan hingga yang problematic/ kompleks. Lalu masalah yang sifatnya rutin hingga insidental dan sebagainya. Tepat tidaknya keputusan yang kita ambil akan sangat mempengaruhi kelangsungan organisasi, efektifitas kerja, hubungan dengan rekan, suasana hati, karir organisasi atau pekerjaan hingga besar kecilnya permasalahan yang akan kita temukan sebagai bagian dari konsekuensi keputusan itu sendiri. Buku ini memberikan gambaran mengenai beberapa pendekatan strategis dan teknis bagaimana cara menetapkan keputusan yang efektif efisien serta menekan resiko serendah-rendahnya. Check this one out !
Keputusan menurut metode pendekatan dan ruang lingkupnya dapat dibagi menjadi :
- Keputusan Operasional. Biasanya lebih bersifat teknis dan menyangkut fungsi tim, divisi/ departemen organisasi atau peran spesifik tertentu sehari-hari. Masalah yang kita hadapi di sini merupakan jabaran/ turunan dari strategi tertentu yang lebih besar.
- Keputusan Strategis. Lebih menyangkut fungsi dan tujuan organisasi secara keseluruhan yang berdampak pada kinerja/ kebijakan terhadap unit-unit kerja yang lebih kecil. Adanya penyesuaian antara lingkungan organisasi dan kapabilitas sumber daya yang dimiliki.
- Keputusan yang diprogram. Memiliki Standart Operating Procedure yang jelas, bersifat repetitif (berulang), resiko tak begitu besar dan mudah didelegasikan.
- Keputusan yang tidak diprogram. Merupakan kebalikan dari keputusan yang diprogram. Suasananya tidak lazim dan terdapat banyak haluan tindakan yang mungkin. Jadi diperlukan pendekatan tertentu oleh orang-orang yang khusus dipersiapkan untuk itu.
Komitmen/ semangat kita terhadap tindakan sangat dipengaruhi efektivitas keputusan yang memicu proses mengubah aspirasi dan sasaran menjadi kenyataan. Riset menunjukkan bahwa para manajer yang sukses adalah yang dapat mengambil keputusan dengan cepat karena mereka kenal masalahnya, paham nilai dan tujuan mereka.
Gaya-gaya Pengambilan Keputusan
Inti dari upaya pengambilan keputusan adalah tentang kapan dan bagaimana keputusan itu diambil serta siapa yang akan menentukan dan mengeksekusinya.
Pendekatan pengambilan Keputusan :
- Pendekatan Otoriter. Wewenang sepenuhnya ada di tangan manajer dan disampaikan langsung ke lini dibawahnya untuk dieksesusi. Keputusan memang cepat dihasilakn dan tim bebas mengalokasikan waktunya untuk tugas lain. Tapi potensi dan kreativitas tim tak sepenuhnya digunalan disini dan tim merasa kurang memiliki keterikatan.
- Pendekatan Demokratis/ Partisipatif. Adanya tanggung jawab bersama antara manajer dan tim dalam pengambilannya. Namun seringkali pendekatan ini cenderung lebih lambat dan kurang praktis.
- Pendekatan Berpikir. Kita butuh waktu untuk mendalami masalah. Namun adanya penghalang seperti keterlibatan emosi pribadi, sempitnya cara pandang, kurangnya waktu dan tekanan membuat kita membutuhkan berbagai masukan dan ide dari orang lain. Seringkali kita mendapatkan perspektif baru tentang masalah dari diskusi dengan orang lain dari orang yang ahli atau di luar masalah.
- Pendekatan intuitif. Insting atau `gut feeling seringkali memberikan kita pengertian yang belum tentu bisa dijelaskan secara rasional. Tentunya hikmat intuitif harus didukung oleh kapasitas intelektual kita.
Apapun jenis pendekatannya, pada dasarnya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi masalah, kebutuhan, tim dan lainnya. Tidak ada benar dan salah. Yang ada berhasil atau belum berhasil.
Langkah-langkah Utama Dalam Pengambilan Keputusan
Sebuah pendekatan yang sistematis :
- Menetapkan tujuan-tujuan. Definisikan maksud/ latar belakang dari keputusan dan apa hasil atau sasaran yang akan dicapai. Kita harus menyesuaikannya dengan tujuan hidup pribadi atau tujuan besar organisasi/tim kita sebagai tujuan jangka panjang dan tujuan-tujuan langsung yang ingin dicapai dengan diambilnya keputusan tersebut dalam jangka pendek. Tentu kita harus paham jenis keputusan yang akan kita ambil (strategis atau operasional). Manfaat langkah ini yakni kita dapat :
- Melihat amasalah dari perspektif yang luas
- Berhenti doisimpangkan oleh tujuan dan usaha-usaha yang tidak relevan/ produktif
- Kita memiliki fokus
- Mengumpulkan informasi internal, eksternal, dan informasi yang dikeluarkan organisasi ke luar. Informasi yang didapatkan seharusnya :
- Relevan dengan konteks/ kebutuhan masalahnya,
- Disampaikan dengan rincian yang sesuai (rincian yang lebih banyak biasanya pada kep.operasional)
- Akurat
- Lengkap. Sifatnya relatif, karena jangan sampai dengan dalih belum lengkapnya info kita menunda-nunda keputusan.
- Tepat pada waktunya. Informasi kita butuhkan bukan pada saat keputusan sudah diambil. Jangan menunggu sampai lengkap tapi deadline sudah terlewati. Sederhananya kita dapat melengkapi pertanyaan 5W+1H untuk mendapat informasi tersebut.
3. Mengidentifikasi pilihan-pilihan alternatif.
a. Membuat daftar pilihan yang mungkin dan terbuka serta kita sanggup menentukan kriteria spesifik dari pilihan tersebut. Lalu cocokkan dengan kriteria keputusan. Ingat bahwa waktu yang kita miliki terbatas. Uji kendala-kendalanya dan jangan membuat asumsi yang tidak perlu. Dobrak stagnasi berpikir dan keluarlah dari status quo.
b. Pendekatan kreatif. Kuncinya imajinasi. Kita harus dapat meilhat masalah dengan perspektif yang berbeda (dari depan, samping, belakang, serong, atas, bawah atau terbalik) serta berani menemukan cara-cara baru. Kreativitas dapat dibangkitkan dan dapat didekati secara rasional (tidak harus gila). Berikut ini teknik pengambilan keputusan secara kreatif:
1. Brainstorming. Gagasannya adalah melanggar cetakan berpikir yang lazim (sudah memiliki batas-batas tertentu). Urutannya :
a. Masalah disampaikan dengan detail dan lengkap
b. Peserta dipersilakan mengajukan ide-ide dengan bebas dan leluasa yang berhubungan dengan masalah.
c. Tidak ada interupsi atau kritik.
d. Juru tulis mencatat dengan tepat apa yang disampaikan
e. Setelah selesai, semua ide/ pilihan dapat dikelompokkan dan dievaluasi. Mana yang memungkinkan dan tidak relevan dengan masalah atau kemampuan kita. Ide-ide gila penting guna membuka pemahaman, atau cara baru yang selama ini terlewatkan.
2. Penulisan ide-ide. Perbedaannya dengan brainstorming yaitu kali ini peserta menuliskan secara pribadi ide-idenya tanpa dimasukkan dalam daftar bersama.
3. Mind Maps (by Tony Buzan)-Peta pikiran. Idenya terbangun dari pentingnya penggunaan warna, citra dan kata-kata kunci untuk penggabungan ide-ide dimana otak kiri dan kanan dapat disinergikan. Langkah-langkahnya :
a. Kreator mulai dengan gambar dan warna yang mewakili topik utama
b. Lalu menuliskan tema-tema utama yang berhubungan dengan topic sentral dengan gari2 bercabang
c. Sterusnya tiap tema dibreak down dengan tingkat pikiran kedua melalui kata dan citra berikutnya.
4. Berpikir lateral.
a. Memeriksa asumsi.
b. Enam topi berpikir. Topi putih (berhubungan dengan fokus informasi dan data), topi hitam (kehati-hatian dan sikap kritis), topi biru (sistematika berpikir), topi merah (emosi dan intuisi), topi hijau (kreativitas), dan topi kuning (optimisme dan sikap positif).
4. Memilih pilihan diantara berbagai alternatif.
a. Mengevaluasi pilihan-pilihan. Kriteria yang umum digunakan adalah :
1. Kelayakan. Apa keterampilan yang dituntut dalam implementasinya dan
sejauh mana kapasitas (sumber daya) yang kita miliki.
2. Penerimaan. Kesesuaian dengan tujuan keputusan berarti penerimaan
yang baik.
3. Resiko
4. Persepsi pribadi. Dipengaruhi oleh tingkat inteketualitas dan pengalaman,
nilai/kepercayaan, kepribadian dan minat serta aspirasi dan pengharapan
kita.
5. Nilai-nilai organisasi.
b. Menyeleksi pilihan-pilihan terbaik. Dapat dilakukan dengan membuat
daftar keuntungan dan kerugian pilihan-pilihan tersebut lalu
membandingkannya, melakukan konsensus bersama dan negosiasi sebagai
bentuk kompromi agar dihasilkan win-win solution. Apabila mufakat sulit
dihasilkan, maka biasanya dilakukan voting atau pemungutan suara
terbanyak. Sebelum keputusan diambil kita harus benar-benar yakin dan
siap dengan jawaban-jawaban, atau strategi tertentu guna menghadapi
resiko yang mungkin muncul.
c. Merealisasikan dan Memonitor Keputusan. Kita akan mengetahui seberapa
efektif keputusan kita dan memperlihatkan tingkat keseriusan kita.
Kemudian kita dapat mengetahui dan mempelajari konsekuensi yang tidak
terduga dan dapat segera belajar dari kesalahan. Terakhir, dengan
seringnya dilakukan evaluasi maka kita dapat segera melakukan treatmen
tertentu sebagai tindakan proaktif dan preventif guna menghindari
kesalahan yang lebih besar dan hasil yang lebih maksimal.
Berikut checklist yang dapat dijadikan panduan guna mengambil keputusan :
1.Identifikasikan tujuan-tujuan keseluruhan Anda dan maksud keputusan.
2.Biasakan berpikir keras
3.Jangan takut menggunakan intuisi
4.Sediakan waktu untuk memperoleh informasi berkualitas dan waktu untuk
mengatasinya
5.Bedakan antara keputusan yang urgen dan yang penting
6.Libatkan sebanyak mungkin orang dan gunakan keahlian mereka
7.Susun dan evaluasikan pilihan-pilihan Anda
8.Gunakan semua sumber daya yang memungkinkan ada pada Anda
9.Gunakan imajinasi
10. Belajar dari kesalahan
11. Ambil keputusan sesering mungkin agar dapat terbiasa dan mahir.
Selamat Mencoba !
Add comment Juli 14, 2008
SURAT UNTUK CINTA
Cinta.
Bagai aroma surgawi yang menjelma
beresonansi di taman jiwa.
Menciptakan warna dalam lukisan cerita
beriak tawa, bertinta air mata.
Memekarkan kuncup-kuncup asmara,
begitu indah terasa
hingga dunia ini milik berdua.
Cinta, dulu …..
mengapa kau
terlambat membuatku terjaga
hingga kuncup itu mati
sebelum terkembang
Cinta, saat inipun
ku terlalu angkuh untuk membalas senyummu
marahkah kau padaku lalu ……
Cinta, mengapa kau tidak adil padaku….
Mengapa tak pernah ada bunga untukku….
Biar kuresapi wanginya, indah mahkotanya
Menghiasi pekarangan hati ini..
Cinta,
apabila kau anugerah
jika kau adalah fitrah……….
kini tanahku semakin cadas
matahariku terlalu panas
mustahil…!
Cinta, kini ku tak mau bunga
Datanglah bersama bidadari.
ukhti..Ku kan menantimu sambil terjaga
(140708, 03.40 AM di kamar EZM)
Add comment Juli 14, 2008
TEKNIK MEMIMPIN DISKUSI
Pemandu dengan tanggung jawabnya untuk mengarahkan dan membimbing peserta menuju pemahaman dan sasaran pembelajaran tentunya harus memiliki keterampilan tertentu dalam mengendalikan sebuah forum dimana didalamnya akan terjadi berbagai interaksi baik antar peserta maupun peserta dengan pemandu. Tentunya pemandu tidak akan memparkan materi terus menerus secara keseluruhan hingga ia mendominasi jalannya sesi, namun ia bisa mendorong peserta untuk mengeksplorasi pengetahuan dan gagasannya melalui sebuah diskusi yang teratur dan terarah. Kita dapat mendefinisikan diskusi sebagai bentuk kegiatan interaktif yang melibatkan 2 orang atau lebih dan tidak selalu memiliki pemimpin formal. Berarti diskusi yang sedang kita bicarakan ini tidak hanya terbatas pada forum-forum formal maupun semiformal, namun juga bisa dilakukan secara bebas tak resmi baik secara lisan maupun tulisan. Yang ditekankan disini adalah adanya hubungan timbal balik atau komunikasi dan terdapat upaya tranfer informasi di dalamnya. Meskipun terdapat ketentuan umum dalam penyelenggaraan diskusi, namun pada kenyataannya melanismenya tidak selalu berlangsung mengikuti kaidah ilmiah. Interaksi berlangsung tanpa sepenuhnya mengacu pada kerangka yang umum asalkan terdapat topik yang dibicarakan dan orang yang menginteraksinya. Dan sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam diskusi tidak harus selalu memiliki pemimpin yang bertugas mengatur dan memediasi berbagai kepentingan peserta diskusi. Komunikasi berjalan begitu saja sesuai keinginan dan kesepahaman kedua belah pihak baik terkait arah maupun penyelesaiannya. Hal lain yang seringkali ditemukan adalah bahwa dalam diskusi kita bisa menemukan bahwa tidak semua peserta mampu bersikap objektif. Masing-masing peserta diskusi memiliki kepentingan dan arah pemikiran tersendiri, apalagi jika emosi juga disertakan dalam menyikapi maupun mengutarakan pendapat maka kemungkinan yang terjadi adalah saratnya nuansa subjektivitas dalam diskusi. Hal ini cukup rawan terhadap efektifitas diskusi yang menuntut penyelesaian atau sebuah konklusi bersama. Maka disinilah salah satu alas an mengapa peran dari pemimpin diskusi dan pengendalian diri/kedewasaan peserta diperlukan. Tang ketiga adalah bahwa diskusi bisa diselewengkan dengan tujuan tertentu. Kita bisa menemukan banyak kasus yang menunjukkan diskusi-diskusi yang tidak produktif/sia-sia. Diskusi dapat mengarah pada sebuah perencanaan kejahatan, fitnah/gossip dan mendekonstruksi pemikiran peserta oleh peserta yang lain yang dominan. Untuk menyelenggarakan sebuah diskusi ada beberapa hal yang harus dipersiapkan antara lain: 1. Kerangka diskusi, yaitu suatu alur diskusi antara pemandu dengan peserta yang biasanya berisi: tujuan/target, metode & waktu yang direncanakan. Agar arah diskusi tampak jelas, maka kita perlu menentukan sasaran yang ingin kita capai/hasil yang diharapkan dari diskusi tersebut. Sehingga kita bisa mempersiapkan diri melalui referensi tertentu atau gagasan-gagasan penting tertentu sebelum diskusi tersebut mengalir. Lalu agar diskusi menjadi efektif, kita juga perlu menreapkan metode tertentu sesuai tujuan, peserta, suasana dan waktu yang tersedia untuk diskusi. Yang terakhir mengenai waktu, bahwa besarnya waktu akan mengukur berapa lama kita akan menyelenggarakan sebuah diskusi. Sehingga pembicaraan-pembicaran yang terjadi berlangsung efektif dan efisien. Pemilihan waktu yang tepat juga merupakan salah satu indicator yang bisa menentukan sukses tidaknya diskusi yakni tercapainya tujuan. Kemudian terdapat beberapa tahapan sebagai alur dari kerangka diskusi sendiri yaitu Pengumpulan fakta. Agar pembicaraan dalam diskusi sarat dengan nuansa objektif dan memiiliki suatu kejelasan maka kita perlu mengumpulkan berbagai macam fakta yang relevan dengan topic yang akan dibicarakan. Fakta tersebut biasanya berasal dari buku-buku, majalah, surat kabar, internet maupun radio. Penyaringan fakta yang relevan. Pada tahap ini terjadi pemilihan dan pengolahan data sesuai tujuan atau penyelesaian permasalahan yang diharapkan. Mana saja fakta-fakta yang dapat memperkuat gagasan atau memungkinkan untuk diolah bersama. Pengaitan fakta menjadi kesimpulan. Fakta yang tadi sudah dipilih akan dijadikan referensi dalam diskusi yang nantinya konstruktif terhadap kesimpulan yang didapatkan. Sehingga apbila didasarkan pada fakta maka kesimpulan yang diperoleh akan lebih valid. Pengaitan kesimpulan dg situasi sehari-hari. Agar hasil diskusi nanti dapat dengan mudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, perlu adanya sebuah koherensi antara hasil diskusi atau kesimpulan dengan kondisi lingkungan atau kehidupan sehari-hari. 2. Kerangka observasi. Merpakan suatu trik untuk mengarahkan pemahaman peserta berdasarkan struktur dari materi yang sudah dipersiapkan. Karena persepsi peserta beraneka ragam maka dalam waktu yang efisien kita harus mampu mengendalikannya agar sesuai dengan arah pembelajaran yang diharapkan. Adapun unsur-unsur yang terkandung di dalamnya anatara lain : Fakta / temuan yang seharusnya terungkap dalam diskusi, Pertanyaan yang perlu diungkapkan untuk memperlebar terungkapnya fakta, Cara menggabungkan fakta tsb menjadi suatu kesimpulan dan contoh dalam kehidupan sehari-hari,supaya jelas. Pada pelaksanaan diskusi sendiri, pemandu harus sedemikian rupa memperhatikan unititas dalam diskusi dan alur yang sudah dipersiapkan. Lalu dilakukanlah evaluasi yang merupakan Penilaian akhir untuk mengetahui dan menjelaskan sejauh mana peserta mengerti materi yang disampaikan yang bertujuan memperbaiki yang kurang,membangun dan memotivasi peserta. Dan trakhir terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pemandu untuk dikurangi selama memimpin diskusi yakni menjawab pertanyaan, menjelaskan definisi dan memberi konfirmasi. Berilah kebebesan bagi peserta untuk mengungkapkan ide dan gagasannya dan tentu benahi kekeliruan-kekeliruan dan kendalikan arah diskusinya.
Add comment Juli 11, 2008
KECERDASAN KOMUNIKASI
Latar belakang identitas sosial kita sebagai manusia telah menghadirkan sebuah konsekuensi logis, dengan adanya interaksi serta konflik antar individu dalam suatu komunitas masyarakat, yang saat ini sudah terasa sedemikian kompleks. Putaran zaman yang begitu cepat, peradaban yang mengalir deras dalam hiruk pikuk modernitas telah mengantarkan kita pada kehidupan yang padat dengan permasalahan dan tantangan. Tuntutan yang semakin besar dalam memenuhi kebutuhan berarti semakin terbukanya peluang terjadinya friksi serta kompetisi, dengan beragam bentuk dan pengaruh yang menyertainya dalam keharmonisan serta keutuhan. Sehingga konflik yang terjadi harus terkelola melalui komunikasi yang efektif, terpelihara dalam bingkai dependensi mutualistik.
Keberhasilan individu untuk tetap survive dan senantiasa melakukan lompatan-lompatan besar di tengah derasnya dinamika hidup, salah satunya terlihat melalui kualitas karakter dan softskillnya, maupun interaksi sosial yang akan menakar nilai tawar dalam komunitasnya. Keterampilan berkomunikasi memiliki hubungan yang linier dengan pencapaian sebuah kesuksesan.
Komunikasi bagi saya lebih dari sekadar saling bertukar informasi atau pendapat, ia merupakan seni membangun hubungan dan mempengaruhi orang lain agar mereka dapat menerima keberadaan kita dan bersikap/berpikir sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Media komunikasi bervariasi sesuai kompleksitas yang mengemasnya saat ini. Lisan atau tulisan, audio atau visual, verbal atau non-verbal, bagaimanapun pemenuhannya tetap membutuhkan kompetensi sehingga komunikasi dapat terselenggara dengan efektif.
Secara intrapersonal, komunikasi harus mensinergikan pikiran, hati dan sikap pribadi, entah dalam menerjemahkan realitas atau menghadapi permasalahan hidup. Imunitas pribadi dan kekuatan karakter terlahir melalui interaksi dan pemahaman yang baik akan hal ini. Ia dapat terlahir dari proses perenungan, adaptasi dan evaluasi internal yang kontinyu untuk kemudian dapat membuka diri dan mengarungi lautan konflik eksternal baik yang bertendensi positif maupun negatif. Medan interaksi interpersonal kita memiliki tipe dan level psikologis yang beragam, baik dari segi manusianya, masalah dan kondisi lingkungan yang melatarinya. Sehingga munculah istilah 3S(Senyum-Sapa-Salam), Berbicara efektif, Mendengar aktif –tentang keterampilan menyimak dan eksplorasi, Bahasa Tubuh (Body Language), dan lain sebagainya.
Add comment Juli 11, 2008
Anak Zaman
Bahwa manusia adalah anak zamannya masing-masing. Ia memang dihadirkan dengan spesifikasi dan kapasitas tertentu sesuai kondisi dan kebutuhan masa eksistensinya. Menganalisa masa lalu, mensintesanya bersama realita dan cita-cita untuk kemudian menuliskan sejarah dan membangun peradaban dengan tangan-tangannya sendiri. Hal terakhir terbangun kadang melalui pergulatan menginteraksi masalah, mengawalinya dengan ketidaktahuan dan mereka menjembataninya dengan pembelajaran. Berpacu dengan waktu, di belantara problematika dan rimbun tantangan yang seringkali melampaui kedewasaan mereka untuk menempatinya.
Add comment Juli 11, 2008
Waktu..aku Menyesal !
Dalam mengarungi bahtera hidup ini, waktu adalah modal atau bekal yang sifatnya unrenewable dan juga unrepeatable. Seberapa besar waktu yang terbingkai oleh karya, akan berkaitan dengan produktivitas serta keberhasilan kita dalam mengelola hidup. Jika kita analogikan dengan koordinat kartesian, maka waktu dan karya (amal) bagaikan nilai x dan y yang mendeskripsi rentang hidup kita dalam suatu fungsi.
Waktu adalah penggalan masa dan dia adalah momentum. Penting atau tidak, bermanfaat atau sia-sia adalah bagaimana cara kita memaknainya. Ada efek menetes (trickle down effect) dimana setiap amal yang kita lakukan dalam suatu waktu akan berpengaruh pada kegiatan yang kita rencanakan atau konsekuensi yang menimpa kita di hari esok. Sehingga seorang yang sukses menurut saya terindikasi dari bagaimana dia dengan cerdas mengalokasikan semenitpun miliknya hanya untuk aktifitas yang produktif / bermanfaat baik yang terencana maupun secara tidak sengaja harus dilakukan. Dia mampu mepertemukan ketegasan dan fleksibilitas terhadap pengaruh lingkungan yang dapat mengganggu alur harian yang teragendakan sebelumnya baik berupa ajakan teman atau kegiatan yang mengundang antusiasme sekalipun. Agar kita bisa menjaga diri hari ini dan menyelamatkan hari depan dalam keteraturan dan keberhasilan.
Sebenarnya cukup banyak alasan yang bisa menerangkan tentang nilai waktu dan urgensi mengelolanya secara efektif. Saya rasa di era global yang kompetitif saat ini dimana informasi dan komunikasi begitu cepatnya bergulir dan terdistribusi, mayoritas masyarakat dunia secara normatif sudah terkondisikan untuk memahaminya, hingga premis waktu adalah uang biasa terdengar dimana-mana. Namun dalam tataran praktis agaknya banyak kendala baik dari pribadi maupun kondisi lingkungan yang menjadikannya sulit terimplementasi. Hal itu juga berlaku pada saya sebagai seorang mahasiswa yang seringkali diliputi tanggung jawab akademis maupun permasalahan amanah di beberapa organisasi yang saya geluti. Banyak yang mengatakan saya aktivis karena kesibukan non-akademis tampaknya lebih banyak menyita waktu dan perhatian saya dibandingkan hal-hal yang berkaitan usaaha mengakrabi diri dengan buku kuliah atau tugas praktikum. Hingga di dalam kelaspun meski sang dosen sudah berkali-kali mengusap peluh atau mengganti berlembar-lembar transparansi (slide), saya tetap asyik dengan pikiran yang mengembara ke ‘dunia lain’. Padahal itu tidak benar, hampir sebagian besar waktu dan aktifitas yang saya lakukan demikian kontraproduktif dan tidak efektif. Terus terang, rasanya waktu yang saya miliki di kontrakan banyak dihabiskan dengan hal-hal yang tidak jelas, jika ditinjau berdasarkan kelumrahan seperti apa mahasiswa kebanyakan. Prestasi akademis saya terus berfluktuasi meski lebih sering memburuk, pun dengan karier di kampus yang tidak terbangun semulus yang saya kira.
Seorang aktifis sejati adalah mereka yang mampu menjaga prinsip keseimbangan antara tangung jawab akademis maupun diluarnya. Mereka focus pada beberapa bidang minat/bakat yang menjadikannya berprestasi. Tidak mencoba menjadi kutu loncat, yang hinggap di setiap organisasi yang belum tentu sesuai dengan arah cita-citanya, tidak mampu berkontribusi secara maksimal karena harus membagi waktu/energi dengan tempat lainnya hingga mereka tidak mampu menghasilkan karya atau prestasi yang signifikan. Kembali ke permasalahan waktu, seringkali saya merasa bingung mengenai apa yang harus saya lakukan ketika mengahdapi waktu-waktu senggang, karena sama sekali saya tidak memiliki perencanaan yang jelas terkait aktifitas hari itu. Sebaliknya penyesalan muncul ketika pada suatu waktu deadline tugas baik dari dosen maupun kegiatan tertentu datang bersamaan, sehingga hal tersebut membuat saya tertekan, lelah dan tidak mampu menyelesaikannya dengan optimal. Ketika saat itu datang, ingin sekali saya memutar kembali waktu dan memperbaiki kesalahan.
Saya kini menyadari ternyata rekan-rekan yang sukses di sekitar saya adalah orang-orang yang mampu memanage waktunya dengan baik, mampu memanfaatkan hubungan baik dengan orang lain, serta mampu menjadikan kesempatan sekecil apapun untuk menjadikannya peluang untuk meraih keberhasilan dalam hal apapun. So, mulai sekarang saya ber-azzam untuk menata kembali hidup ini dengan semangat menghargai waktu dan kesempatan….(abank)
Add comment Juli 11, 2008
Saatnya Pemuda Menata Taman Negeri
Sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah (pemikiran/idealisme), pemuda adalah pengibar panji-panjinya (Hasan Al Banna). Soekarno, founding father Indonesia dan Presiden pertama Republik Indonesia pernah menyampaikan dalam sebuah pidatonya bahwa ia sanggup mengguncangkan dunia hanya dengan sepuluh pemuda yang hatinya berkobar. Pemuda sarat vitalitas serta memiliki sense idealisme yang kuat hingga menjadikan mereka menonjol dalam tiap zaman dalam tiap momen perubahan. Dalam beberapa catatan sejarah, sensitivitas kaum pemuda membuatnya berada di garda terdepan dalam upaya mengakhiri suatu rezim yang dinilai telah menciderai amanat masyarakat. Mereka mudah gelisah. Mereka suka resah. Indonesia telah melahirkan angkatan `28, angkatan `66, angkatan 74 dan angkatan 98 yang berasal dari kalangan mahasiswa, memproklamirkan diri mereka sebagai agent of change dan memimpin aksi perubahan hingga menggulingkan suatu rezim tiran. Mereka adalah kaum minoritas kreatif dalam komunitas awam, diantara sekian banyak pemuda/i yang sudah kehilangan eksistensinya karena ekses negatif modernitas saat ini. Mereka adalah tunas baru yang sedang merekah, dan siap menggantikan induknya yang telah layu.
Namun hingga kini cita perubahan untuk menyelamatkan negeri ini dari penyakit kronisnya seolah menjadi utopia semata karena Indonesia belum juga terangkat nasibnya. Peran pemuda selama ini dirasa belum cukup produktif dan koheren dengan kapasitas intelektual mereka baik secara individu maupun kolektif. Selama ini mereka cenderung menggagas aksi-aksi yang reaktif, bergerak sesudah masalah menemukan bentuknya di ruang public. Lalu melancarkan kritik dan tuntutan-tuntutan yang mereka sendiri sulit menderivasikannya dalam ruang praktis. Permasalahan bangsa yang sedemikian kompleks menuntut pemuda yang proaktif, berpikir lateral ke depan dan bertindak sebelum masalah itu menjadi riil. Mereka secara independen melakukan pengawalan kebijakan atau perilaku politik pemerintah entah itu dengan tumpah di ruas-ruas jalan atau menggagas diskurkus yang solutif, dari wacana hingga menjadi gerakan. Melakukan upaya pencerdasan dan pencerahan sosial untuk membuka peluang partisipasi masyarakat, sekali lagi berdasarkan kompetensi atau keilmuan yang mereka miliki. Oleh karena itu fungsi pemuda khususnya mahasiswa sudah mengarah kepada director of change, menggerakkan dan memimpin perubahan di setiap lini kehidupan masyarakat, menjaga agar agenda perbaikan tersebut dapat terencana dengan desain yang matang serta berkesinambungan. “Tidak serampangan,” kata Anas Urbaningrum.
Krisis yang berkepanjangan, dan belum terangkatnya nasib bangsa saat ini sebenarnya disebabkan oleh belum adanya visi dan kepemimpinan yang capable guna menjangkau serta menginteraksi masalah yang sedemikian kompleks. Capable dalam artian minimnya kreativitas dan progresivitas ide serta ikhtiar mengeksekusinya. Tidak kolot dan kental kepentingan politis disana sini.
Kita membutuhkan wajah-wajah yang lebih segar, tangan-tangan yang lebih kekar untuk secepatnya menyambut tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini. Maksud saya, kita membutuhkan pemuda. Pemuda intelektual yang kini tampaknya harus melakukan serangkaian akselerasi guna menghadapi regenerasi kepemimpinan di tubuh negeri. Pemuda yang senantiasa memasifikasi diri, membangun kesadaran di antara rekan-rekan seusianya untuk aktif dalam barisan-barisan kepedulian akan nasib bangsa. Sehingga mereka dapat segera mengetuk palu, menggantikan bapak-bapak yang sudah terlalu uzur untuk menyambut atau memikirkan reformasi, bahkan revolusi. Wacana potong generasi sempat mengisi ruang dengar public terkait dengan keberadaan para pemimpin muda yang sudah begitu diperhitungkan kapasitas dan prestasinya, baik dalam lingkup partai politik, pengusaha, institusi pendidikan hingga parlemen.
Kita mengenal rektor UI termuda dalam sejarah yakni Prof. Dr Gumilar, lalu rector Universitas Paramadina Anis Baswedan, yang baru berusia 38 tahun saat menjabat, lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua BPK Anwar Nasution, Anas Urbaningrum-Ketua DPP Partai Demokrat hingga Fahri Hamzah-anggota DPR dari angkatan 98. Mereka adalah contoh yang membuktikan betapa paradigma kini sudah berubah mengikuti zamannya, zamannya para pemuda. Oleh karena itu, semakin kuat premis yang mengatakan bahwa kepemimpinan pemuda hanya soal kesempatan dan kepercayaan bukan soal kemampuan. (Ubaidillah Nugraha).
Institusi perguruan tinggi sebagai iron stock supplier,merupakan salah satu sarana untuk menyiapkan insan-insan muda intelektual yang akan terjun sebagai abdi masyarakat. Kehidupan kampus beserta organisasi kemahasiswaan di dalamnya turut andil dalam mengisi ruang kapasitas dan membentuk karakter mereka khususnya sebagai pemimpin. Eksistensi organisasi kepemudaan tidak bisa dipungkiri cukup berperan dalam mendinamisasi pergerakan mahasiswa yang demikian menemukan tempatnya. KAMMI merupakan salah satu wadah perjuangan, akselerator bagi para kader muslim bangsa dan nantinya akan menjadi corong bagi terlahirnya pemimpin masa depan yang akan mengangkat Indonesia dari lembah keterpurukan. Dengan platform Muslim Negarawan yang diterjemahkan ke dalam tujuh kompetensi kritis yakni Pengetahuan Ke-Islaman, Wawasan Ke-Indonesiaan, Kepakaran & profesionalisme, Kepemimpinan, Diplomasi & jaringan serta Kredibilitas Moral, maka KAMMI akan muncul sebagai kekuatan penggerak yang mengikis tradisi kebobrokan dan stagnasi selama ini melalui kaderisasi kepemimpinan dengan visi kebangsaannya. Namun gagasan yang begitu ideal sepertinya sulit direalisasikan dalam tataran praktis mengingat kita belum mempunyai gambaran utuh bahkan sosok riil saat ini yang memenuhi kualifikasi seorang muslim negarawan. Meskipun telah dirumuskan secara garis besar bagaimana manhajnya, namun jarak anatara realita dan idealita itu begitu panjang terbentang hingga waktu yang diperlukan memang tidak singkat untuk mereproduksi secara massal kader muslim negarawan yang nantinya (meminjam istilah Anis Matta) akan menata ulang taman Indonesia ini. Wallahu`alam bishawab.
Add comment Juli 11, 2008
Kenang-kenanglah kami, teruskan-teruskanlah jiwa kami…!
Kita telah mengenal betapa banyak tokoh pejuang masa lalu yang menghimpun diri dalam peluh pengorbanan, isak teriakan kebebasan hingga tawa di ujung kematian. Mencoba mengenyah penjajahan yang membelenggu, meniti jalan panjang perjuangan, harga mati kemerdekaan, harga diri bangsa yang terlalu mahal untuk terbayarkan. Mereka terpanggil dan terpilih untuk melakukan pembelaan, menjadi martir yang menegakkan pilar kebangkitan sebagai sebuah bangsa. Kegelisahan, kesadaran serta keberanian yang terakumulasi begitu cepatnya, mengalir bersama semangat pengorbanan, emosi nasionalisme, dan gairah jihad pertarungan. Allahu Akbar..! Membahana, beresonansi di ruang jiwa. Meletup-letup, menghasilkan energi kepahlawanan yeng mengombak berderu, melebihi kecepatan peluru dan dentuman mortir, mengoyak benteng kolonial yang merapuh bersama kedatangannya. Hingga kita dapat menghirup udara kebebasan tanpa rasa takut yang meliputi keseharian dan mengibarkan merah putih setinggi-tingginya, setinggi hakikat keberadaannya kini.
Mereka telah menulis sejarah, hingga pergi meninggalkan kesan, sekaligus pesan dibalik prestasi kemerdekaan. Kenang-kenanglah kami, teruskan-teruskanlah jiwa kami. Itulah penggalan sebuah sajak yang mengisyaratkan cita kemerdekaan yang belum tuntas dan kini menjadi tantangan generasi pewaris negeri ini. Tanpa bambu runcing, senjata api bahkan darah dan nanah. Keharusan untuk mewarna makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan arah perkembangan zaman saat ini.
Sekarang mungkin kita hanya akan menemukan semangat kepahlawanan dan patriotisme secara tekstual dalam kisah-kisah klasik kitab sejarah. Semuanya hanya akan menjadi romantisme masa lalu yang begitu sulit disadur dan diterjemahkan kembali dalam konteks interaksi kehidupan bangsa saat ini. Kita hanya bisa mengenang mereka melalui peringatan seremonial tahunan seperti Hari Kebangkitan Nasional, Proklamasi Kemerdekaan, Hari Pahlawan 10 Nopember ini dan lain-lain dengan sedikit sekali menghayati dan mengimplementasikan hakikat didalamnya, hampa makna.
Setelah 60 tahun proklamasinya, Republik Indonesia telah melalui beberapa fase kepemimpinan sejak orde Lama hingga era reformasi saat ini dimana estafet pemerintahan telah bergulir dan berupaya mengantarkan bangsa ini melalui jalan terjal demi cita-citanya. Namun belum adanya visi dan karakter kepemimpinan yang kuat, negeri ini seperti bingung dan tersesat dalam langkahnya sendiri. Entah mundur, maju atau berjalan di tempat. Indonesia malah semakin sesak oleh masalah dan musibah. Prof. Toshiko Kinoshita dari Universitas Waseda, Jepang pernah mengatakan bahwa orang Indonesia tidak pernah berpikir panjang. Sedihnya lagi karakter seperti itu bukan hanya di kalangan masyarakat dari semua lapisan, tapi juga politisi dan pejabat pemerintah. Hal ini kemudian, menyebabkan Indonesia akan sulit bersaing dengan Cina dan Negara-negara Asia lainnya (Kompas, 24 Mei 2002). Sebagian besar pemimpin dan masyarakat berpola pikir pragmatis, dan hanya berorientasi sempit pada kepentingan pribadi atau golongan. Implikasinya muncul kasus korupsi, pelecehan seksual, kemiskinan, kebodohan, kebakaran hutan hingga konflik horizontal yang seolah membuat tanah air ini tidak nyaman lagi untuk dihuni.
Lalu entah sadar atau tidak, kita pun sedang memasuki babak baru imperialisme dimana hegemoni bangsa asing berupaya menghujamkan kukunya dalam-dalam mencengkeram Indonesia. Korporatokrasi dengan penjajahan multidimensi-sistemik memanfaatkan hutang luar negeri serta berbagai modus kerja sama asing terekayasa menimbulkan ketergantungan dan inferioritas (rendah diri) pemerintah. Parahnya hal tersebut diikuti karakter anti kerja keras dan fatalistis (mudah menyerah/putus asa) sebagian masyarakat dewasa ini. Sehingga kompleksitas masalah sedemikian jauh melampaui kapasitas kita untuk menjangkaunya. Dahulu kita dikenal sebagai bangsa pejuang, yang berhasil merebut hak kemerdekaan dengan tangan kita sendiri. Dengan semangat patriotis, mempertemukan keberanian dan kesabaran dalam perjuangan yang sulit dan tak singkat. Indonesia, di tengah krisis multidimensi, kini sedang menanti kelahiran pahlawan-pahlawannya yang baru. Sosok penggerak dengan integritas intelektual-moral yang siap membangunkan negeri ini dari tidur dan mimpi buruknya.
Mereka memiliki energi yang panjang, mengedepankan ikhtiar yang optimal daripada sesuatu yang instan, berdedikasi untuk membangun negeri melalui karya-karya besar sesuai kompetensinya masing-masing. Dari petani hingga konglomerat, pelajar hingga profesor, ibu rumah tangga hingga presiden, semuanya memiliki kesempatan untuk meraih piala kepahlawanan yang memang tidak dipergilirkan, namun untuk diperebutkan, kata Anis Matta. Selamat Hari Pahlawan.
Add comment Juli 11, 2008
MENGGUGAT Kebangkitan…ngaca yuuk !
Gaung reformasi yang telah tertabuh 10 tahun yang lalu, telah beresonansi dan tergradasi dalam lirih bangsa yang ringkih. Dalam nada letupan amarah, keroncong kelaparan, hingga isak ratapan korban bencana dan keangkuhan zaman. Angin perubahan itu terasa kering dan masyarakat seperti menyesali lembar karya sejarah mereka sendiri. Prestasi keruntuhan rezim Orde Baru 10 tahun lalu rasanya tak indah lagi untuk dikenang. Karena logika masyarakat lebih mudah mendefinisikan harga BBM dan TDL daripada kebebasan ber`ekspresi` atau transparansi politik Kini harga-harga itu kian melambung tinggi hingga tak sedikit dari mereka yang mencekik leher sendiri. Masyarakat kian tempramental dan mudah terprovokasi. Hingga tak jarang aksi premanisme menjadi solusi konflik antar kelompok sosial, tindakan anarkis menjadi sarana menumpahkan kekecewaan dan protes pada kebijakan pemerintah.
Terbukanya kran demokrasi dan HAM sebagai produk positif reformasi telah disalahgunakan melebihi batas proporsionalnya. Berbagai budaya, paham dan pengaruh asing atas nama globalisasi telah begitu mudah menembus batas teritori dan imunitas keberadaban serta martabat kemanusiaan kita sebagai bangsa. Dari majalah Playboy hingga skandal amoral anggota DPR RI, dari Miss Waria hingga Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Keyakinan. Sebagian besar faksi politik menjadikan ruang demokrasi publik sebagai medan perang terbuka demi ambisi kekuasaan. Begitu praktis dan pragmatis. Korupsi merajalela, kolusi meratulela. Pemerintah bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, terjebak dalam kubangan hutang dan permainan sistemik yang direkayasa korporatokrasi internasional melalui IMF, Bank Dunia, AS-Zionis serta korporasi asing yang terus menerus menggerus sumber daya alam dan manusia Indonesia. Not state within a state, but state above the state. Sejatinya merekalah yang telah memiskinkan kita sampai saat ini, entah sampai kapan.
Adalah suatu ironi ketika bangsa yang sedang sakit ini justru dihuni oleh komunitas muslim terbesar dunia. Jarak antara realitas umat dan cita-cita peradaban itu kini begitu terbentang jauh. Allah SWT berfirman, Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu beriman. (QS:Ali Imran-139).
Kebangkitan umat adalah sebuah keniscayaan sejauh kesiapan kita untuk menyiapkan sumber daya strategis serta teknis yang terorganisir guna menyokongnya. Sejauh mana umat secara kolektif telah memiliki perspektif dan visi yang sama tentang kondisi kekinian dan tuntutan masa depan itu sendiri. Karena prestasi perubahan tidak akan mungkin terealisasi tanpa adanya perubahan mendasar pada ruang paradigma dan emosi kolektif dalam memaknai dan merasa. Dalam konteks ini, umat harus disatukan di tengah keragaman manhaj dan ranah gerakannya.
Di tengah jatuhnya pamor materialisme dan kapitalisme yang telah gagal dalam membangun peradaban yang manusiawi dan mensejahterakan dunia (hanya mampu menghasilkan hutang luar negeri, peperangan serta kesenjangan sosial), Islam kini tampil sebagai solusi alternatif. Ditambah lagi dengan rapuhnya gerakan liberal/ sekularisasi yang rapuh baik secara sustansial-tanpa konsep yang orisinal, metodologi yang kokoh serta output empiris yang sukses-maupun secara struktur karena mengandalkan dukungan politik, dana dan media Barat. Gerakan islamisasi kampus di berbagai belahan dunia islam melalui para aktivis dakwah, susksesnya konsep ekonomi Islam yang kini semakin banyak diaplikasikan oleh negara asing, hingga munculnya harakah-harakah Islamiyah yang cukup massif dan eskalatif telah cukup menjelaskan tanda-tanda fajar kebangkitan itu akan segera tiba.
Dan kebangkitan itu, menurut Syaikh Yusuf al-Qaradhawi diharapkan dapat dimulai dari Indonesia. Oleh karena itu, kita harus dapat menyiapkan momentum kepemimpinan umat untuk menyambut estafeta berikutnya guna mengakhiri status quo yang pro terhadap stagnasi dan degradasi bangsa saat ini. Namun pertanyaannya, sejauh mana kesiapan kita ?. Di tengah arus modernisasi, tantangan IPTEK, sengitnya percaturan politik, pergolakan kemiskinan dan kebodohan, era kedigdayaan militer serta permasalahan multidimensi bangsa saat ini, kita membutuhkan pemimpin-pemimpin dengan akal raksasa, mental baja, dan tangan yang perkasa untuk mengemban serta membahasakan nilai-nilai perubahan dan peradaban Islam tersebut. Para negarawan yang siap mengisi ruang-ruang strategis penentu kebijakan di setiap lini sistem pemerintahan sesuai kompetensi mereka masing-masing. Mereka tidak saja memiliki spesialisasi, namun juga keunggulan untuk memimpin perubahan.
KAMMI sebagai salah satu pelaku sejarah reformasi, memiliki konsep muslim negarawan. Bukan muslim politisi. Bedanya-menurut Nurcholis Majid, politisi bekerja untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Sementara negarawan bekerja untuk kepentingan bangsa dan generasi masa depan. Muslim Negarawan merupakan interpretasi dari sosok pemimpin masa depan yang tangguh sesuai visi gerakan KAMMI. Melalui buku Menyiapkan Momentum, akh Rijalul Imam mengurai Lima Elemen Kunci seorang Muslim Negarawan, diantaranya :
Memiliki basis ideologi Islam yang mengakar, memiliki basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, Idealis dan konsisten, Berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa, serta Mampu menjadi perekat komponen bangsa dalam upaya perbaikan.
Memang jika kita memahami 6 kompetensi kritis yang telah digariskan dalam manhaj Muslim Negarawan, maka yang selalu menjadi pertanyaan adalah apakah kita sudah memiliki model riil atau output empiris yang bisa membuktikan validitas manhaj tersebut?. Sekali lagi, idealita pemimpin kebangkitan bangsa masih jauh dari realita pemudanya hari ini. Siapakah yang akan merebut piala kepahlawanan negeri ini? Siapakah yang siap menata ulang taman Indonesia ini ? Siapapun dia, yang jelas bangsa Indonesia melalui cahaya Islam akan segera terangkat dari keterpurukannya. Allah SWT telah menjanjikan keabadian Islam dan ketinggian peradabannya. Entah kapan, entah ada orang yang mau mengusahakannya atau tidak.
Hanya ada pilihan, apakah kita hanya akan menjadi penonton di batas apatisme atau bergabung dalam lokomotif perjuangan dalam lintasan dengan 2 batas. Menjadi pengukir sejarah kemenangan atau terukir gugur dalam syahid pertempuran. (abanknanda)-(ruang syuro B. Fath, 050608-22:55 WIB)
Add comment Juli 11, 2008
Hijrah Bangsa, Hijrah Pendidikan Kita…
Dari Mekkah ke Madinnah. Hijrah Rasulullah SAW bersama para sahabat seharusnya tak hanya dimaknai secara fisik sebagai perpindahan tempat atau pembentukan komunitas baru di wilayah baru. Lebih daripada itu terdapat sebuah perubahan menuju komunitas muslim yang terstruktur, dalam keshalihan intelektual dan moral.Dalam kondisi kritis akibat intimidasi dan politik embargo kaum kafir, dakwah telah menemukan bentuknya yang baru. Menegara dalam bingkai jihad fisabilillah. Kaum muslimin di Madinnah tumbuh sebagai kekuatan baru baik secara politik, ekonomi, sosial, teknologi, militer dan lainnya. Sebuah hijrah menuju masyarakat madani yang berperadaban tinggi.Kemudian relevansi yang bisa kita tarik hari ini adalah bahwa nilai-nilai dan semangat yang melatari peristiwa bersejarah tersebut seyogyanya dapat dijadikan referensi guna merekayasa kebangkitan umat dan negeri ini dalam segenap dimensi kehidupan. Bagaimana melakukan transformasi masyarakat di setiap lini sosialnya secara utuh dan berkesinambungan menuju model komunitas yang sesuai dengan kebutuhan zamannya, dan yang terpenting memiliki mentalitas, cara berpikir dan sikap kolektif yang benar dan mapan dalam menyikapi apapun yang mereka namakan sebagai masalah. Sehingga umat setidaknya dapat bangkit dari stagnasi untuk kemudian berkompetisi di tengah modernitas saat ini dan tidak semakin larut dideru masalah, hanyut terarusi dera kemiskinan, kebodohan hingga konflik internal.
Umat harus dicerahkan bukan hanya dicerdaskan. Inilah esensi dari pendidikan sebagai industri manusia intelektual.Sebuah sistem reproduksi masyarakat dengan kualifikasi peradaban. Pendidikan akan merumuskan generasi yang akan mewarisi negeri, mengolah SDM (human capital) dengan visi masa depan melalui levelisasi kompetensi dan berbagai institusi formal maupun informal milik pemerintah maupun swasta. Memberantas wabah kebodohan masyarakat dengan definisi yang seluas-luasnya atau dengan kata lain harus dapat menjamah setiap lini kehidupan sosial. Kebodohan yang menimpa mayoritas masyarakat lebih tepat dikatakan sebagai problem sosial daripada problem personal (karena kemalasan, cacat atau inkondusifitas lingkungan),(Rekayasa sosial, Jalaluddin Rakhmat). Sebenarnya sistem politik, ekonomi dan sosial bangsa inilah yang semakin mempersempit ruang bagi masyarakat untuk menikmati pendidikan yang layak. Kapitalisme, kesenjangan sosial, kemiskinan hingga sistem pendidikan kita sendiri yang telah terdisorientasi hingga kontribusinya tak cukup efektif untuk mencerdaskan bangsa apalagi mencerahkannya.
MARI MENCETAK PEMIMPIN
Oleh karena itu, kita perlu mengupayakan sebuah perubahan sosial (social engineering) untuk menata kembali dinamika nilai pada individu hingga sistem sosial di tingkat kelompok masyarakat serta institusi negara, terutama menyangkut tema pendidikan. Salah satu ideas yang perlu dikembangkan adalah nilai kepemimpinan.
Saya jadi teringat pada paparan Bukhari Nasution dalam Forum Indonesia Muda V yang mengritisi sistem pendidikan Indonesia yang sejauh ini dinilai hanya mampu mencetak manusia bermental pekerja beserta skill-skill teknis dan praktis. Di kebanyakan ruang-ruang kelas kita senantiasa dimotivasi untuk bagaimana dapat segera lulus dan bekerja sebagai karyawan/ buruh di sebuah perusahaan besar dengan tingkat gaji tinggi.Tidak lebih. Ekstrimnya, mayoritas produk pendidikan Indonesia hanya dapat setara dengan kaum sudhra atau kasta terendah dalam kelas sosial.Sistem yang sudah tidak relevan dengan tuntutan zaman ini akan menjadikan Indonesia semakin kerdil terinjak hegemoni bangsa asing.Kurikulum kita selama ini belum berorientasi pada pembentukan manusia Indonesia dengan karakter dan kompetensi kepemimpinan dengan basis keilmuannya masing-masing.Sistem pendidikan formal kita belum menjawab kebutuhan akan pentingnya sebuah visi/ misi, komunikasi, kapasitas manajerial, decision making serta sofskill lain yang sebenarnya dapat dipadukan melalui metode belajar mengajar. Karena keilmuan yang digerakkan dan diarahkan melalui nilai-nilai di atas akan mendorong terciptanya karya-karya dan kemanfaatan yang lebih besar. Tidak seperti Jepang atau negara maju lainnya, sejak dini kita belum diarahkan dan dididik untuk berpikir strategis sehingga kita cenderung ikut-ikutan, dan pasif menyikapi permasalahan.Tidak hanya 5W+1H, tapi ditambah dengan pertanyaan berapa waktu dan biaya yang diperlukan sebagai wujud pentingnya efisiensi dan produktivitas suatu konsep atau aktifitas. Kita bisa melihat bagaimana sekolah atau perguruan tinggi swasta Indonesia dengan basis etnis China misalnya, ternyata memiliki kurikulum pendidikan yang mereka desain secara mandiri mulai dari buku-buku yang diberlakukan hingga metode pembelajarannya. Mereka tidak mungkin menerapkan kurikulum yang disediakan pemerintah yang memang terasa sempit atau out of date. Maka tak perlu heran apabila siswa-siswi mereka begitu bebas berinovasi dan mampu menciptakan perangkat elektronik serta robotika bahkan hingga memiliki hak paten.Mereka mendominasi pos-pos eksekutif di perusahaan atau sukses dengan bisnis multinasional. Sementara pelajar-pelajar Indonesia?
Dengan mengintegrasikan intelektualitas dan karakter kepemimpinan dalam suatu sistem pembelajaran, wacana kebangkitan bangsa ini akan semakin menemukan bentuk riilnya. Kepemimpinan tidak hanya dapat terlahir secara otodidak melalui pengalaman atau gelombang resistensi terhadap kolonal atau rezim tirani seperti yang terjadi pada para tokoh pemimpin bangsa dulu (Agus Suwignyo). Melainkan ia harus benar-benar dirumuskan dan dikembangkan sejak dini. Bukankah imperialisme modern masih mencengkeram bangsa ini? Bukankah-menurut Samuel P.Hutington, umat Islam dengan umat lainnya kedepan akan dihadapkan pada sebuah benturan peradaban (clash of civilization) ? Bersambung….. (FEBRI)
Add comment Juli 11, 2008